(Belajar) Membuat Resolusi

(Belajar) Membuat Resolusi

Pada hari ketiga masuk semester genap, tepatnya Rabu, 7 Januari 2026, saya mengisi jadwal mengajar di kelas 8A MTs Negeri 3 Bojonegoro, jam ke-5–6, selepas istirahat pertama. 

Pada pertemuan awal di kelas ini, saya tidak langsung menyampaikan materi Matematika, meskipun buku Lembar Kerja Siswa (LKS) sudah mereka terima. Justru, saya mengajak mereka untuk berlatih membuat resolusi. 

Keputusan itu muncul secara spontan. Saat saya masuk kelas, sebagian besar siswa tampak tertidur. Sebagian lain asyik ngerumpi dengan teman sebangkunya. Kedatangan saya seolah tak begitu diharapkan. 
Hehehe 

Dalam hati saya bergumam, rupanya anak-anak ini masih terbawa kebiasaan semester pertama: minat belajar yang menurun. 

Saya membuka pelajaran seperti biasa. Kata-kata motivasi saya sampaikan untuk menggugah dan mendongkrak semangat mereka. Namun, hasilnya belum juga tampak. 

Akhirnya, saya mencoba menggunakan cara lain. Kebetulan, kita berada di awal tahun 2026. Maka, saya mengajak mereka untuk berlatih membuat resolusi. 

Saya lemparkan pertanyaan sederhana, 
“Di awal tahun ini, apakah di antara kalian sudah membuat resolusi?” 

Kelas mendadak hening. Tatapan mereka tertuju ke arah saya, penuh tanya. Saya lanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, 
“Apa yang dimaksud dengan resolusi?” 

Tak satu pun tangan terangkat. 

Hehehe 

Ya, itu wajar sekali. Bukan salah mereka jika belum paham apa itu resolusi. Jangankan membuat resolusi, memahami maknanya saja belum. Bisa jadi, orang tua maupun guru mereka belum pernah mengajak—atau mengajarkan—mereka untuk membuat resolusi. 

Perlahan saya jelaskan kepada mereka. Saya ambilkan pengertian dari beberapa artikel yang terserak di berbagai laman website. 

Resolusi adalah tekad atau keputusan sadar yang dibuat seseorang untuk memperbaiki diri, hidup, atau keadaan di masa depan. 

Biasanya, resolusi disusun di awal tahun. Namun sejatinya, resolusi bisa dibuat kapan saja, saat hati tergerak untuk berubah. 

Secara sederhana, saya jelaskan kepada mereka: 

Resolusi = niat + arah + komitmen 

Dalam bahasa sehari-hari, resolusi sering dimaknai sebagai: 
target hidup, harapan baru, janji pada diri sendiri, atau upaya menjadi versi diri yang lebih baik. 

Saya lalu meminta mereka membuka halaman kosong buku tulis Matematika. Di atas halaman putih yang masih bersih itu, mereka mulai menuliskan resolusi masing-masing. 

Saya berpesan, setelah resolusi dituliskan, maka tugas berikutnya adalah menata niat dengan sungguh-sungguh, berupaya menggapainya dengan langkah nyata, dan menjaga komitmen agar resolusi itu tidak berhenti sebatas tulisan. 

Hari itu, saya tidak sedang mengajarkan rumus atau angka. Saya sedang belajar bersama mereka tentang niat, arah, dan komitmen—tiga hal sederhana yang sering kita abaikan, tetapi menentukan ke mana hidup akan melangkah. 

Mungkin resolusi-resolusi yang mereka tulis masih sangat sederhana. Ada yang ingin lebih rajin belajar, ada yang ingin membahagiakan orang tua, ada pula yang ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Namun bagi saya, di situlah letak keindahannya: kesadaran awal untuk berubah. 

Saya percaya, tugas guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan harapan. Bukan sekadar mengisi papan tulis, melainkan mengetuk hati—pelan-pelan. 

Semoga resolusi-resolusi kecil yang ditulis di halaman kosong buku Matematika itu tidak lekas pudar. Semoga Allah menuntun langkah mereka, menguatkan niatnya, dan menjaga komitmennya. 

Dan semoga kami para guru, selalu diberi kelapangan hati untuk mendidik dengan sabar, membimbing dengan cinta, serta mengajar dengan penuh keikhlasan. 
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 

Ruang Rindu, 07 Januari 2026

Coretanku

(Belajar) Membuat Resolusi

(Belajar) Membuat Resolusi

Pada hari ketiga masuk semester genap, tepatnya Rabu, 7 Januari 2026, saya mengisi jadwal mengajar di kelas 8A MTs Negeri 3 Bojonegoro, jam

Advertisement