Di setiap bulan, Jumat Wage selalu hadir sebagai hari yang istimewa. Terutama di tempat saya tinggal, hari ini menjadi penanda berlangsungnya sebuah tradisi kirim doa untuk para ahli kubur—leluhur yang telah lebih dulu berpulang.
Rangkaian kegiatannya dimulai sejak malam Kamis Pon, ba’da jamaah Isya, dengan khatmil Al-Qur’an di serambi masjid. Lalu pada Kamis sorenya, ba’da Ashar, dilanjutkan dengan pembacaan Al-Fatihah yang dikhususkan bagi jamaah yang menitipkan infak dan sedekah atas nama ahli kuburnya. Malam harinya, tradisi itu dirangkai dengan tahlil bersama, masing-masing jamaah membawa nasi atau jajanan sederhana. Usai doa dibacakan, jamaah saling berbagi dan bertukar hidangan sebagai wujud kebersamaan sekaligus sedekah.
Selain di masjid, pada hari itu pula masyarakat—utamanya para pria, meski tak jarang juga perempuan—berbondong-bondong menuju makam leluhur. Di tangan mereka tergenggam sebungkus kembang kenanga atau kembang campuran, untuk nyekar: menabur bunga, membersihkan makam, dan memanjatkan doa dengan khidmat.
Entah sejak kapan tradisi nyekar di Jumat Wage ini bermula. Tak ada catatan pasti, tak pula kisah yang benar-benar dapat ditelusuri ujung pangkalnya. Namun yang jelas, hingga hari ini tradisi itu tetap lestari—dijaga oleh ingatan kolektif masyarakat, diwariskan dari generasi ke generasi, sebagai cara sederhana untuk merawat hubungan batin antara yang hidup dan yang telah kembali kepada Allah.
Beda tempat, beda pula tradisinya. Di Jember, Jawa Timur, misalnya, tradisi nyekar dilaksanakan pada Jumat Legi, yang oleh masyarakat setempat disebut Jumat Manis.
Berdasarkan beberapa artikel yang saya baca, tradisi nyekar bersama pada hari tertentu ini juga bersandar pada hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:
“Barang siapa menziarahi kubur kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jumat, maka diampuni dosa-dosanya (yang kecil) dan ia dicatat sebagai orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya.”
Dalam beberapa keterangan, waktu yang dianjurkan untuk ziarah kubur adalah sejak Kamis sore hingga Sabtu pagi.
Nyekar di makam leluhur pada Jumat Wage dapat dipahami sebagai tradisi Jawa yang menggabungkan keutamaan spiritual hari Jumat dalam Islam—sebagai waktu mustajab doa dan pengingat akan akhirat—dengan penanggalan pasaran Jawa yang memandang Jumat Wage sebagai hari sakral untuk mengingat asal-usul dan melakukan muhasabah. Pada titik ini, nyekar menjadi ikhtiar batin: mempererat ikatan dengan leluhur, memohon ampunan, serta menundukkan hati agar selalu ingat bahwa setiap yang hidup, kelak akan kembali.
Pada akhirnya, setiap kali Jumat Wage tiba dan kaki melangkah ke makam leluhur, saya belajar tentang satu hal sederhana: bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini. Di antara harum bunga kenanga dan lirih doa yang terucap, ada kesadaran yang tumbuh pelan—bahwa kita berasal dari mereka yang telah pergi, dan suatu saat akan menyusul di barisan yang sama. Nyekar bukan sekadar tradisi, melainkan jeda untuk merendahkan hati, mengingat asal-usul, dan memohon agar kelak, ketika nama kita disebut dalam doa-doa anak cucu, Allah berkenan menerima amal-amal kecil yang pernah kita tanam di dunia.
Simorejo, 3 Januari 2026
Bakda Shubuh






.png)

_(1)_(1)_11zon.png)
Komentar
Tuliskan Komentar Anda!