Ungkapan Syukur dengan Menulis

Ungkapan Syukur dengan Menulis

Di awal pagi, di hari kedua tahun baru, Jumat, 2 Januari 2026, saya masih teringat pesan yang disampaikan oleh Pak Dosen Usman Roin. Pesan motivasi itu dikirim pada Selasa, 30 Desember 2025, melalui aplikasi perpesanan WhatsApp (WA). 

Pak Usron—begitu saya biasa memanggil dosen UNUGIRI Bojonegoro ini—adalah sosok yang sangat menghargai ide. Sekecil apa pun ide yang hadir di benaknya, ia berusaha tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Caranya sederhana: menuliskannya, lalu mem-posting-nya di blog pribadi. 

“Blog kita adalah kumpulan ide. Ide sekecil apa pun tidak saya biarkan berlalu tanpa catatan, atau menguap begitu saja,” tulisnya. 

Lebih dari sekadar kebiasaan menulis, Pak Usron memaknai aktivitas mencatat ide sebagai bentuk syukur. 
“Mencatat dan menampung ide adalah wujud syukur kita kepada Allah Swt. Siapa yang bersyukur, akan ditambah nikmat,” jelas Kepala Perpustakaan UNUGIRI itu. 

Saya sepakat dengan pendapat tersebut. Ide adalah sesuatu yang berharga. Ia sering datang tiba-tiba, di waktu yang tak terduga. Jika tidak segera ditulis, ide itu perlahan memudar, lalu hilang begitu saja—terkalahkan oleh keterbatasan ingatan kita. 

Padahal, ide bukan sekadar lintasan pikiran. Ia adalah ilham dari Allah Swt. Tidak semua orang dianugerahi ide yang sama. Maka, ketika sebuah gagasan hadir, sejatinya kita sedang menerima titipan nikmat. 

Menulis, dalam konteks ini, bukan soal produktivitas semata, apalagi ambisi. Ia adalah cara sederhana untuk menjaga amanah ide, sekaligus ungkapan syukur atas karunia akal dan rasa. Dengan menulis, kita belajar menghargai apa yang Allah titipkan di benak kita hari ini—sekecil apa pun itu. 

Semoga setiap ide yang kita catat menjadi sebab bertambahnya nikmat, dilapangkannya hati, dan didekatkannya diri kepada-Nya. Karena bisa jadi, dari satu catatan kecil yang ditulis dengan niat syukur, Allah bukakan jalan kebaikan yang lebih besar. 

Simorejo, 2 Januari 2026       

Coretanku

Di Antara Kolam dan Laut Lepas

Di Antara Kolam dan Laut Lepas

Sejak pertama kali bertemu dengan Pak Dosen Usman Roin secara daring pada Rabu, 17 Desember 2025, saya langsung merasa klik. Ada kesamaan yang

Advertisement