Seni Memahami Wanita

Seni Memahami Wanita

Pagi itu, aku berangkat ke sekolah bersama Azim, anak keduaku—seorang perempuan kecil yang sedang belajar membaca dunia dengan caranya sendiri. Jalanan desa masih lengang. Udara pagi membawa sisa embun dan doa-doa yang belum selesai dilangitkan. 

Di sebuah pertigaan dekat rumah, kami berada tepat di belakang seorang ibu yang mengendarai sepeda motor. Ia melambat. Lalu, lampu sein kanan menyala. 

Nalarku langsung bersiap. Oh, mau belok kanan, pikirku. 

Aku ikut mengurangi kecepatan, menyesuaikan jarak, sambil menunggu arah yang sudah “diberitahukan” itu. 

Namun, beberapa detik kemudian—di luar dugaanku—motor itu justru berbelok ke kiri. 

Aku terdiam sesaat. Bingung. Separuh ingin tersenyum, separuh lagi ingin menggeleng pelan. Azim, yang duduk di belakang, mungkin tak menyadari apa-apa. Tapi aku—seorang ayah, seorang suami—mendadak merasa sedang belajar sesuatu. 

Ternyata, lampu sein kanan tidak selalu berarti belok kanan. 

Di situlah aku tersenyum sendiri. Pagi-pagi, sebelum sampai sekolah, aku justru diajak merenung tentang seni memahami wanita. 

Selama ini, laki-laki—termasuk aku—terbiasa membaca tanda secara lurus dan teknis. Ada isyarat, ada makna tunggal. Ada sinyal, ada kesimpulan. Hidup kami sering dibangun dengan logika yang rapi: jika ini, maka itu. 

Sementara wanita, sering kali, berbicara dan memberi isyarat dengan bahasa yang lebih halus. Bukan sekadar arah, tapi rasa. Bukan hanya tujuan, tapi pertimbangan. Bisa jadi lampu sein itu dinyalakan bukan untuk memberi tahu ke mana ia akan belok, melainkan untuk memberi rasa aman: “Aku akan bergerak, mohon berhati-hati.” 

Dan di situlah letak perbedaannya. 

Memahami wanita ternyata bukan soal cepat menebak arah, tapi tentang kesediaan untuk memperlambat langkah. Bukan tentang merasa paling benar membaca tanda, tapi tentang mau bertanya, mau menunggu, dan mau mengalah pada empati. 

Sebagai suami, aku sering dihadapkan pada “sein-sein” semacam itu. Kata-kata yang terdengar sederhana, tapi menyimpan perasaan yang dalam. Diam yang bukan berarti tak apa-apa. Senyum yang kadang justru menyembunyikan lelah. 

Sebagai ayah dari anak-anak perempuan, aku belajar bahwa kelak mereka pun akan berbicara pada dunia dengan caranya sendiri. Tugasku bukan memaksa dunia mengikuti logikaku, tapi menyiapkan hatiku agar cukup lapang untuk memahami bahasa mereka. 

Pagi itu, dari sebuah pertigaan kecil, aku belajar bahwa memahami wanita adalah sebuah seni. Ia tidak bisa dipelajari dari buku petunjuk atau rambu lalu lintas. Ia tumbuh dari kesabaran, kerendahan hati, dan kesediaan untuk tidak selalu ingin menang. 

Barangkali, dalam hidup berumah tangga, kita memang tak selalu tahu akan belok ke mana. Tapi selama kita mau menyalakan empati, menjaga jarak dengan ego, dan melaju dengan cinta, insyaAllah perjalanan akan tetap sampai pada tujuan. 

Ya Allah, lembutkanlah hati kami para laki-laki. Ajari kami memahami tanpa menghakimi, mendengar tanpa menyela, dan mencintai tanpa merasa paling benar. Jadikan kami pasangan dan ayah yang mampu menghadirkan rasa aman, sebagaimana Engkau menghadirkan petunjuk-Mu dengan penuh kasih. Aamiin. 

 Di Ruang Kenangan, 05 Januari 2026 

Coretanku

Seni Memahami Wanita

Seni Memahami Wanita

Pagi itu, aku berangkat ke sekolah bersama Azim, anak keduaku—seorang perempuan kecil yang sedang belajar membaca dunia dengan caranya sendiri.

Advertisement