Masjid di Tepi Jalan, Rumah Tenang Para Musafir

Masjid di Tepi Jalan, Rumah Tenang Para Musafir

Waktu liburan akhir semester ganjil—yang beriringan dengan akhir dan awal tahun—telah usai. Kini saatnya para santri kembali ke pondok, para siswa kembali masuk sekolah. Ada yang mulai masuk pada 2 Januari 2026, ada pula yang baru kembali pada Senin, 5 Januari. 

Begitu pula dengan Saniyyatuz Zuhro, siswa kelas XII MA. Hari ini, Sabtu, 3 Januari 2026, ia kembali ke pondok di Jombang. Zahro—begitu biasa kami memanggilnya—adalah anak pertama kami. Setiap kali pulang liburan dan kembali ke pondok, sayalah yang mengantar dan menjemputnya. 

Kami berangkat berdua, mengendarai motor Vario 125 merah kesayangannya. Warna itu dulu ia pilih sendiri saat kami membelinya. Jarak tempuh sekitar 58 kilometer, dengan waktu perjalanan kurang lebih dua jam. 

Pukul 08.10 WIB kami berangkat dari rumah, mengambil jalur selatan: Pejok–Kendung–SukorameKabuh. Hampir seluruh jalan telah dicor, membuat perjalanan terasa lebih lancar dan nyaman. 

Entah mengapa, pagi itu rasa kantuk terasa berat saat kami menyusuri jalan cor. Akhirnya kami memutuskan singgah sejenak di Masjid Al-Mukmin, Desa Pendowokumpul, Kecamatan Sukorame, Lamongan. Di sudut serambi masjid, kami merebahkan diri sejenak. Setelah rasa kantuk mereda, perjalanan pun kami lanjutkan, membelah kawasan hutan Kabuh. 

Masjid mungil berarsitektur modern itu berdiri tepat di sisi jalan, satu kompleks dengan MI Ma’arif. Letaknya sangat strategis. Tak heran, banyak musafir singgah di sana—sekadar melepas penat, mengusir kantuk, atau menenangkan diri sebelum kembali melanjutkan perjalanan. 

Bagi kami sekeluarga, masjid ini bukan sekadar tempat persinggahan. Ia menyimpan banyak kenangan. Hampir setiap kali sambang Zahro ke pondok, kami sering berhenti di sini. Selain Masjid Al-Mukmin, kami juga pernah singgah di beberapa masjid lain di sepanjang perjalanan menuju Jombang. 

Ada sesuatu yang membuat masjid terasa begitu nyaman bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Pertama, masjid adalah ruang jeda. Di tengah tubuh yang lelah dan pikiran yang penat, masjid memberi izin untuk berhenti—tanpa harus merasa bersalah karena “menyita waktu”. Berhenti di masjid terasa sah, bahkan dianjurkan. 

Kedua, masjid menawarkan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Dindingnya mungkin sederhana, lantainya dingin, kipas angin berputar pelan, dan suasananya sunyi. Namun justru di situlah letak kenyamanannya. Tidak ada tuntutan selain menenangkan diri. Tak ada yang harus dibeli, tak ada yang harus dibayar. 

Ketiga, masjid mengembalikan orientasi. Dalam perjalanan jauh, sering kali yang lelah bukan hanya raga, tetapi juga hati. Masjid mengingatkan bahwa sejauh apa pun langkah manusia, selalu ada tempat untuk menundukkan kepala, mengingat tujuan, dan menyerahkan lelah kepada-Nya. 

Dalam perjalanan mengantar Zahro kembali ke pondok pagi itu, saya belajar bahwa Allah selalu menyediakan tempat untuk berhenti—bukan hanya bagi raga yang lelah, tetapi juga bagi hati yang penat. Masjid-masjid di tepi jalan itu seolah menjadi tanda kasih-Nya kepada para musafir: mengajak singgah, menenangkan, lalu menguatkan kembali langkah. 

Semoga setiap masjid yang kami singgahi menjadi saksi doa-doa kecil yang terucap lirih; doa agar perjalanan selalu dilindungi, anak-anak kami dijaga dalam kebaikan, dan langkah-langkah mereka dimudahkan dalam menuntut ilmu. Semoga lelah kami bernilai ibadah, dan setiap perpisahan sementara ini diganti Allah dengan pertemuan yang penuh berkah. Āmīn

Simorejo, 04 Januari 2026
Bakda Shubuh.

Coretanku

Menata Niat, Menyambut Semester Genap

Menata Niat, Menyambut Semester Genap

Setelah lebih dari dua minggu menikmati liburan semester ganjil dan libur akhir tahun, hari ini, Senin, 5 Januari 2026, seluruh siswa kembali masuk

Advertisement