Pagi tadi, bakda Subuh, usai menuntaskan rutinitas harian, saya membuka ponsel yang sejak malam sebelumnya mati otomatis. Saya mulai mengecek pesan WhatsApp. Ternyata, ada cukup banyak pesan masuk, terutama dari grup madrasah tempat saya mengabdi.
Setelah itu, saya lanjutkan dengan membuka Facebook. Di sana muncul beberapa notifikasi—beberapa teman mem-posting tulisan. Salah satunya berasal dari seorang sahabat saya (semoga beliau juga berkenan mengakui saya sebagai sahabat), Pak Bagus Ibrahim.
Pak Agus—begitu sapaan akrabnya—saya kenal melalui salah satu anggota keluarga komunitas menulis Kita Belajar Menulis (KBM). Saya mengenal beliau sebagai pemilik Percetakan Mitra Karya yang berdomisili di Tuban, Jawa Timur.
Tulisan beliau berjudul “Gus Muh”, terdiri dari dua bagian. Saya membacanya perlahan dan mencermati setiap bagiannya.
Dalam tulisan itu, Pak Agus mengisahkan pengalamannya menghadiri reuni alumni santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Gresik, dan perjumpaannya dengan Gus Muh.
Rasa penasaran saya mendorong untuk mencari informasi lebih lanjut. Ternyata, Gus Muh adalah Gus Muhammad Ma’ruf, putra ketiga pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci – Gresik. Akhirnya, rasa penasaran itu terjawab. Hehehe…
Hal yang paling berkesan bagi Pak Agus adalah salah satu kelebihan Gus Muh: ingatan beliau yang luar biasa. Beliau masih mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun silam, lengkap dengan para santrinya.
Bagi seorang santri atau murid, diingat oleh kiai, murobbī, atau guru adalah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri. Namun tentu, tidak semua guru memiliki kemampuan mengingat ratusan, bahkan ribuan muridnya. Dan di situlah letak keistimewaannya.
Ada banyak pelajaran yang saya petik dari tulisan Pak Agus.
Barokah itu nyata.
Pak Agus menuturkan bahwa pekerjaan yang beliau tekuni hari ini merupakan buah dari kebiasaan yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas saat masih mondok. Percetakan Mitra Karya yang kini beliau kelola, berawal dari ketekunannya ngopeni penerbitan majalah pondok. Sesuatu yang dulu tampak sederhana, ternyata menjadi jalan hidup yang penuh keberkahan.
Keuntungan Menjadi Santri (Memiliki Kiai/Murobbī/Guru)
Pertama, kiai akan senantiasa mendoakan santri dan murid-muridnya sepanjang hayat—bahkan setelah beliau wafat. Doa itulah yang menjaga keberkahan ilmu seorang santri. Sementara santrinya, kadang (maaf), justru lupa karena kesibukan, atau bahkan sengaja melupakan.
Kedua, kiai, murobbī, atau guru akan selalu mengenang kebaikan santrinya. Sekecil apa pun yang dipersembahkan seorang santri, akan terpatri dalam ingatan beliau. Bahkan, kebaikan itu tak hanya didoakan, tetapi juga sering diceritakan kembali kepada santri-santri lain atau orang lain.
Karena itu, betapa bahagia dan beruntungnya seseorang yang diberi kesempatan mondok dan menjadi santri.
Melihat semua itu, jujur saja, ada rasa “iri” yang muncul dalam diri saya. Keterbatasan finansial orang tua kami—saya dan istri—membuat kami tak memiliki kesempatan mondok.
Namun kami tidak berputus asa.
Meski tak pernah mondok, kami berusaha tetap ngaji di mana pun dan kapan pun. Kami memilih beberapa kiai, murobbī, dan guru untuk dijadikan rujukan ilmu sekaligus penjaga ruh kami. Kami rela menjadi santri tanpa almamater.
Dan ikhtiar kami berikutnya—yang paling kami jaga dengan doa—adalah memondokkan anak-anak kami.
Semoga Allah senantiasa menautkan hati kami kepada para kiai, murobbī, dan guru-guru yang dengan tulus membimbing langkah kami—baik yang pernah kami jumpai, maupun yang hanya kami kenal lewat ilmu dan keteladanan. Semoga keberkahan doa-doa mereka mengalir tanpa putus, menjaga ilmu yang kami pelajari agar tak sekadar singgah di akal, tetapi menetap di hati dan tercermin dalam amal.
Ya Allah, jika kami tak Engkau takdirkan menjadi santri di pesantren, maka jangan Engkau putuskan kami dari barokah para guru. Jadikan kami hamba-hamba yang setia belajar, rendah hati menerima nasihat, dan istiqamah dalam menimba ilmu hingga akhir usia. Dan anugerahkanlah kepada anak-anak kami jalan yang lebih luas: jalan ilmu, adab, dan keberkahan, di bawah naungan doa para kiai dan guru-guru yang Engkau muliakan.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Kepohbaru, 6 Januari 2026


.png)
.png)

.png)
_11zon.png)



Komentar
Tuliskan Komentar Anda!