Laraswangi - Salah satu alasan kuat mengapa banyak siswa tidak menyukai mata pelajaran Matematika adalah karena matematika bersifat abstrak. Sementara itu, pola pikir anak—terutama di usia SMP/MTs—belum sepenuhnya mencapai tahap berpikir abstrak. Akibatnya, mereka kerap mengalami kesulitan saat harus memahami satu soal, apalagi jika disajikan langsung dalam bentuk simbol dan rumus.
Di sinilah sejatinya peran guru hadir. Tugas kita bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan menemani dan mengawal proses berpikir mereka. Guru dituntut berani berpikir out of the box, menghadirkan contoh-contoh nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa—yang mereka alami, rasakan, dan pahami.
Secara psikologis, peserta didik usia SMP/MTs masih berada pada tahap transisi menuju berpikir abstrak. Oleh karena itu, pembelajaran matematika akan jauh lebih bermakna jika diawali dengan pengalaman konkret serta dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari yang dekat dengan dunia siswa.
Prinsip inilah yang saya coba terapkan saat menemani siswa kelas 7A MTs Negeri 3 Bojonegoro belajar matematika. Pada pertemuan pertama di semester genap ini, Kamis, 8 Januari 2026, materi yang dibahas adalah Aljabar.
Ketika pertama kali masuk kelas, membuka pelajaran, dan sekilas melihat daftar isi Lembar Kerja Siswa (LKS) yang tergeletak di atas meja mereka, terdengarlah satu komentar polos dari bibir mungil seorang siswa,
“Aljabar itu sulit, Pak.”
Kalimat sederhana, tetapi jujur. Dan justru di situlah tantangan seorang guru bermula.
Dalam hati saya berkata, baik, berarti saya tidak boleh langsung berbicara tentang x, y, dan bentuk-bentuk aljabar. Saya harus mencari pintu masuk lain—pintu yang akrab dengan dunia mereka.
Saya pun memulai dengan hal yang sangat dekat dengan keseharian siswa.
Sebagai alat peraga, saya sengaja mampir ke koperasi siswa untuk membeli satu pak Yakult. Isinya lima botol, dengan harga Rp12.000,00.
Dengan botol kecil Yakult itulah saya mengajak siswa mengenal dan memahami konsep aljabar yang selama ini terasa membingungkan bagi mereka.
Saya memulai dengan menuliskan jumlah benda beserta namanya.
Plastik pembungkus saya buka. Saya angkat satu botol Yakult, lalu dua, tiga, hingga lima botol. Saya menanyakan jumlah dan benda yang saya bawa. Mereka serempak menjawab,
“Satu botol Yakult, dua botol Yakult, tiga botol Yakult….”
Jawaban itu kemudian saya tuliskan dengan cara mendaftar di papan tulis:
1 botol Yakult
2 botol Yakult
3 botol Yakult
4 botol Yakult
5 botol Yakult
Selanjutnya, saya mengajak siswa menuliskan nama benda tersebut dengan menggunakan simbol.
Saya jelaskan bahwa dalam matematika, kita sering menggunakan simbol untuk mewakili suatu benda atau nilai. Maka, kami pun menyepakati bersama: Yakult diganti dengan simbol “y”.
Jika dituliskan dalam bahasa matematika, hasilnya menjadi:
1 botol Yakult = 1y = y
2 botol Yakult = 2y
3 botol Yakult = 3y
4 botol Yakult = 4y
5 botol Yakult = 5y
Sebagai penguatan, saya berikan contoh lain. Apel diganti simbol “a”, belimbing diganti “b”, xylophone diganti “x”, dan seterusnya.
Di bagian ini, saya kembali menekankan makna simbol yang telah ditulis. Simbol 1y cukup ditulis y, karena y menunjukkan jumlah satu. Selanjutnya saya tuliskan kembali secara lengkap:
y, 2y, 3y, 4y, dan 5y.
Angka 1, 2, 3, 4, dan 5 yang berada di depan y menunjukkan banyaknya botol Yakult, sedangkan y merupakan simbol pengganti Yakult yang telah kami sepakati bersama.
Dari sini, saya mengajak siswa menerapkan kejadian tersebut ke dalam bahasa matematika.
Sekali lagi, matematika sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Momen saya membeli Yakult di koperasi tadi saya jadikan contoh nyata.
Saya membeli satu pak Yakult di koperasi. Isinya lima botol dengan harga Rp12.000,00.
Kemudian, saya mengajak mereka mengubah kalimat tersebut ke dalam bentuk kalimat matematika.
Lima botol Yakult tersebut dibeli dengan harga Rp12.000,00. Sebelum menuliskannya ke dalam bahasa matematika, saya bertanya terlebih dahulu kepada siswa, berapa harga satu botol Yakult.
Tanpa menunggu lama, mereka menjawab,
“Rp2.500,00, Pak.”
Saya pun bertanya kembali, bagaimana cara mereka mengetahuinya.
“Rp12.000,00 dibagi lima,” jawab mereka serempak.
Dari sini saya menangkap satu hal penting: sebenarnya mereka sangat memahami konsep jual beli dan pembagian. Hanya saja, selama ini mereka belum menyadari bahwa pemahaman itu juga merupakan bagian dari matematika.
Selanjutnya, bahasa sehari-hari tersebut saya ubah ke dalam bahasa matematika. Saya tuliskan di papan tulis:
5y = 12.000
Untuk menentukan harga satu botol Yakult, saya jelaskan langkah-langkahnya secara runtut:
5y = 12.000
y = 12.000 : 5
y = 2.500
Dengan cara itu, siswa mulai melihat bahwa simbol dan persamaan bukanlah sesuatu yang asing atau menakutkan. Ia hanya cara lain untuk menuliskan peristiwa yang setiap hari mereka jumpai.
Setelah siswa memahami bahwa y mewakili satu botol Yakult dan angka 2.500 menunjukkan harganya, saya mulai memperkenalkan istilah-istilah dasar dalam aljabar.
Saya menunjuk tulisan 5y = 12.000 di papan tulis, lalu bertanya perlahan,
“Angka lima di depan huruf y ini, menurut kalian artinya apa?”
Mereka menjawab, “Jumlah botolnya, Pak.”
Saya mengangguk. “Betul. Angka yang berada di depan huruf dan menunjukkan banyaknya suatu benda, dalam aljabar disebut koefisien.”
Kemudian saya menunjuk huruf y.
“Huruf y ini mewakili apa?”
“Yakult, Pak,” jawab mereka hampir bersamaan.
“Nah, huruf yang digunakan untuk mewakili suatu benda atau nilai yang belum diketahui, kita sebut variabel.”
Terakhir, saya mengajak mereka memperhatikan angka 12.000 dan 2.500 yang kami peroleh dari perhitungan.
“Angka-angka ini tidak berubah. Nilainya tetap. Dalam aljabar, bilangan seperti ini disebut konstanta.”
Pelan-pelan, istilah yang semula terdengar asing itu mulai menemukan maknanya. Koefisien, variabel, dan konstanta bukan lagi sekadar definisi di buku, tetapi bagian dari cerita sederhana tentang lima botol Yakult di koperasi sekolah.
Ruang Rindu, 08 Januari 2026
_11zon.png)





.png)
.png)

Komentar
Tuliskan Komentar Anda!