Malam itu, saat jamaah menunaikan salat Magrib, hujan lebat mengguyur Dusun Laraswangi. Senyum mengembang di wajah para jamaah. Usai imam membacakan doa bakda salat, mereka saling bersalaman dan bertukar pandang dengan bahagia. Hujan itu telah lama mereka nantikan.
Tanaman padi yang menghijau mulai mengering. Jika hujan tak segera turun, para petani terpaksa mengairi sawah dengan pompa air dari sungai—biaya yang tentu tak murah.
Usai jamaah, mereka tak langsung pulang. Para lelaki duduk-duduk di serambi masjid, menikmati suara hujan sambil menunggu reda. Tak seorang pun membawa payung. Saat berangkat ke masjid tadi, langit belum menunjukkan tanda-tanda akan hujan.
Hujan baru reda setelah salat Isya. Para jamaah pun pulang ke rumah masing-masing. Pintu-pintu rumah tertutup rapat meski malam masih muda. Mereka menikmati dinginnya bekas guyuran hujan bersama keluarga tercinta.
Malam menjadi hening, sepi, dan dingin. Orang-orang mulai terlelap.
Tiba-tiba—
“Maling…! Maling…! Maling…!”
Teriakan itu memecah keheningan. Suaranya menggema ke hampir seluruh sudut Dusun Laraswangi yang biasanya damai.
Sontak, warga berhamburan keluar rumah. Mereka saling bertanya, lalu berlari mencari sumber suara.
“Bunuh saja!”
“Jangan lepaskan dia!”
Teriakan itu membuncah, disertai amarah yang tak terbendung.
Seorang pemuda kurus dikeroyok ramai-ramai. Bogem mentah menghujani tubuhnya. Wajahnya lebam di mana-mana. Pelipisnya robek, darah mengucur deras. Bibir atasnya membengkak tak berbentuk. Mulutnya penuh darah.
“Ampun, Pak… ampun…”
Pintanya memelas, nyaris tenggelam oleh riuh kemarahan.
Ia meringkuk di tanah, tubuh ringkihnya bersimbah darah. Hanya celana dalam yang masih melekat di badannya. Namun rintihannya tak dihiraukan.
Tak lama kemudian, ketua RT datang, meminta warga tenang. Polisi desa segera mengamankan pemuda malang itu.
Dari penggeledahan singkat, ditemukan sebuah kotak amal masjid di dekat tubuhnya—kotak yang baru saja ia curi.
Beberapa warga teringat, ini bukan kali pertama kotak amal masjid kehilangan isinya. Beberapa bulan lalu, uang di dalamnya mendadak tinggal separuh. Tak ada saksi. Tak ada bukti. Kasus itu menguap begitu saja.
Malam ini, dia apes.
Baru saja keluar dari masjid sambil membawa kotak, seorang warga kebetulan melintas di jalan tepi masjid. Teriakan orang itulah yang membangunkan dusun yang dingin.
Isinya tak seberapa. Tak sampai satu juta. Hanya ratusan ribu rupiah—hasil patungan jamaah yang ikhlas.
Di kantor desa, setelah luka-lukanya dibersihkan seadanya, pemuda itu akhirnya bicara.
Namanya Wira. Usianya baru dua puluh tahun. Tubuhnya kurus kering.
Ia mencuri bukan karena lapar. Bukan pula untuk foya-foya. Uang itu untuk biaya pengobatan ibunya, Suminah, yang telah lama menderita penyakit jantung koroner.
Sehari-hari, Wira merawat ibunya seorang diri. Mereka tinggal di rumah bambu reyot di ujung dusun. Tak ada sanak saudara. Tak ada penghasilan tetap. Sesekali Wira membantu panen padi atau mencari kayu bakar ke hutan untuk dijual.
Namun biaya rumah sakit jauh dari jangkauan mereka.
Dalam keputusasaan, setelah segala cara tak membuahkan hasil, malam itu Wira memilih jalan yang salah—berharap uang di kotak amal bisa membelikan obat untuk ibunya.
Air matanya menetes deras saat menceritakan semuanya. Tubuhnya gemetar. Tapi tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Semua telah telanjur.
Kasus Wira tetap diproses secara hukum. Ia digiring ke kantor polisi kabupaten. Tak ada yang membelanya. Meski beberapa warga mulai menaruh iba setelah mengetahui alasan sebenarnya, hukum tetap berjalan.
Hari-hari berlalu di balik jeruji besi. Wira menjalani hukuman dengan hati remuk.
Dari sel kecil yang pengap, ia hanya memikirkan satu hal: ibunya.
Ibu yang ia cintai, yang kini terbaring lemah di rumah bambu reyot itu—tanpa siapa pun yang menjaga.
Hingga suatu sore, kabar buruk itu datang.
Suminah mengembuskan napas terakhir. Penyakit jantung yang selama ini membelitnya akhirnya merenggut nyawa. Ia meninggal dalam sepi, di atas tikar usang, tanpa Wira di sisinya.
Mendengar kabar itu, tubuh Wira limbung. Ia menjerit, lalu ambruk di lantai sel. Pingsan seketika.
Surganya telah pergi. Selamanya.
Berita kematian Suminah mengguncang hati warga Dusun Laraswangi. Rasa bersalah mengendap dalam benak mereka. Mereka menyesal membiarkan Wira menanggung semuanya sendirian.
Beberapa warga mengumpulkan uang, membantu mengurus jenazah Suminah. Mereka memandikannya, menyelubunginya dengan kain putih terbaik yang mereka miliki, lalu mengiringi pemakamannya dengan linangan air mata.
Namun semuanya sudah terlambat.
Wira hanya bisa menangis dalam sepi, mengenang sosok ibu yang dahulu selalu tersenyum meski tubuhnya penuh sakit.
Kini, senyum itu tinggal kenangan. Dan dirinya tinggal sendiri, menanggung luka yang takkan pernah sembuh.
**
Malam terus bergulir di atas Laraswangi. Angin membawa suara tangis yang tak terdengar.
Seorang anak kehilangan surga, sementara dunia terus berjalan seolah tak terjadi apa-apa.
Di balik jeruji besi, Wira tahu: cinta sejati kadang harus membayar harga yang terlalu mahal.
Dan di sudut-sudut dusun itu, orang-orang akhirnya belajar, bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan dengan penyesalan.
Kedungsari, menjelang maghrib
7 Januari 2026




.png)
.png)
_11zon.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!