Ketika AI Terlalu Jauh: Belajar Bijak dari Isu Grok yang Viral

Ketika AI Terlalu Jauh: Belajar Bijak dari Isu Grok yang Viral

Belakangan ini, jagat media sosial—khususnya platform X—ramai membicarakan Grok, sebuah kecerdasan buatan (AI) buatan perusahaan xAI milik Elon Musk. Ramainya bukan semata karena kecanggihannya, melainkan karena isu penyalahgunaan AI yang membuat banyak orang terhenyak. 

Salah satu yang viral adalah kabar bahwa Grok diminta mengubah foto wanita yang berpakaian sopan menjadi hanya mengenakan bikini. Bagi orang awam seperti kita, kabar ini tentu mengundang tanya: Apa iya AI bisa sejauh itu? Dan apakah ini sejalan dengan nilai kemanusiaan dan akhlak? 

Sekilas Sejarah X (Twitter) 

Sebelum bernama X, platform ini dikenal luas sebagai Twitter, media sosial yang lahir pada tahun 2006. Twitter menjadi ruang berbagi gagasan, kritik, kabar, dan suara hati masyarakat dalam bentuk tulisan singkat. 

Pada tahun 2022, Twitter dibeli oleh Elon Musk, lalu pada 2023 berganti nama menjadi X. Pergantian ini bukan sekadar kosmetik, melainkan perubahan arah: X ingin menjadi everything app, aplikasi serba guna yang memadukan media sosial, video, layanan digital, hingga kecerdasan buatan. 

Dari arah baru inilah kemudian muncul Grok, AI yang terintegrasi langsung dengan platform X. 

Apa Itu Grok? 

Secara sederhana, Grok adalah chatbot AI yang dapat menjawab pertanyaan, membaca teks, dan menganalisis gambar berdasarkan informasi yang beredar di platform X. 

Namun, sebagaimana ilmu pengetahuan lainnya, AI hanyalah alat. Ia tidak memiliki iman, tidak pula mengenal dosa dan pahala. Yang menentukan ke mana ia digunakan adalah manusia sebagai khalifah di bumi. 

Fakta Penting yang Perlu Dipahami 

Tidak semua yang viral itu benar dan utuh. Dalam banyak kasus: 

1. Manipulasi foto semacam itu bukan fitur resmi AI, 

2. Bisa jadi hasil alat pihak ketiga yang disalahgunakan, 

3. Atau bentuk kelalaian moral penggunanya. 

Sebagian besar platform AI sebenarnya melarang keras: 

1. Mengubah foto seseorang tanpa izin,

2. Merendahkan martabat manusia, 

3. Terlebih menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan hiburan. 

Dalam Islam, menjaga kehormatan (ʿirdh) adalah perkara besar. Merusaknya—meski lewat layar dan teknologi—tetaplah sebuah pelanggaran akhlak. 

Masalah Utamanya Bukan pada AI 

AI tidak pernah berniat jahat. 
Ia tidak tahu mana yang halal dan mana yang haram. 

Masalahnya terletak pada manusia yang lupa adab, padahal ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kerusakan. 

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa rasa malu adalah bagian dari iman. Maka ketika teknologi digunakan tanpa rasa malu, sejatinya yang hilang bukan kecanggihan, melainkan nurani. 

Mengapa Ini Perlu Disikapi Serius? 

Karena praktik semacam ini bisa menjadi: 

1. Pelecehan digital,

2. Pelanggaran privasi,

3. Bentuk kekerasan berbasis gender online. 

Lebih dari itu, ia mengikis kesadaran bahwa setiap manusia dimuliakan oleh Allah, bukan untuk dieksploitasi, apalagi dipermainkan demi sensasi. 

 

Penutup: Teknologi Boleh Maju, Akhlak Jangan Mundur 

Teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin cerdas. Namun iman, akal sehat, dan adab harus berjalan lebih dulu. 

Bagi kita yang awam, ada satu pegangan sederhana: 

Tidak semua yang bisa dilakukan teknologi pantas untuk dilakukan. 

Tulisan ini saya buat sebagai muhasabah pribadi: agar di tengah dunia yang serba cepat dan canggih, kita tetap ingat untuk menundukkan pandangan, menjaga lisan dan jari, serta menggunakan ilmu sebagai jalan mendekat kepada Allah—bukan menjauh dari-Nya. 

Ruang Kenangan, 8 Januari 2026 

Coretanku

(Belajar) Membuat Resolusi

(Belajar) Membuat Resolusi

Pada hari ketiga masuk semester genap, tepatnya Rabu, 7 Januari 2026, saya mengisi jadwal mengajar di kelas 8A MTs Negeri 3 Bojonegoro, jam

Advertisement