Ma’asyiral
muslimin rahimakumullah,
Melalui
mimbar ingkang Mulya menika, kula wasiat khusus dateng pribadi kula ugi kagem
sedaya para Jamaah. Mangga kita sami meningkatkan keimanan lan ketakwaan dateng
Gusti Allah swt. kanti nindakake perintah lan berusaha ninggalake cegah.
Alhamdulillah,
saat menika kita wonten ing sajeroning Wulan Rajab 1447H. Sebentar lagi kita
akan memperingati peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu Isrā’ Mi‘rāj Nabi
Muhammad ﷺ, yang terjadi pada malam 27 Rajab. Sebuah peristiwa agung, luar
biasa, dan sarat makna.
Allah
Ta‘ala berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ
آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Mahasuci
Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram
ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan
kepadanya sebagian tanda-tanda Kami.” (QS. Al-Isrā’: 1)
Jamaah
Jum’at yang dimuliakan Allah,
Isrā’
Mi‘rāj bukan sekadar kisah perjalanan, tetapi peristiwa turunnya perintah
shalat. Shalat adalah ibadah paling istimewa, karena:
1)
Diwajibkan
langsung oleh Allah
2)
Tanpa
perantara malaikat
3)
Tanpa
perantara wahyu biasa
Awalnya
lima puluh waktu, lalu diringankan menjadi lima waktu, namun pahalanya tetap
lima puluh.
Ini
menunjukkan betapa shalat adalah tiang agama, pembeda antara iman dan
kekafiran, serta cermin hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Jadi
sholat ini yang membedakan antara orang mukmin, muslim dengan orang-orang
kafir.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ
تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian
antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka
sungguh ia telah kafir.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Maka
pertanyaannya, wahai jamaah sekalian:
Sudahkah
shalat kita menjadi penopang iman, atau hanya sekadar rutinitas?
Jamaah
Jum’at rahimakumullah,
Perlu
kita ingat, Isrā’ Mi‘rāj terjadi setelah masa ujian berat Rasulullah ﷺ:
wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, penolakan di Thaif, dan luka batin yang
mendalam. Tahun itu dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuzn — tahun kesedihan.
Namun
justru di saat itulah Allah mengangkat Rasul-Nya, memberi penghiburan, dan
menghadiahkan shalat.
Ini
adalah pesan besar bagi kita semua: ujian hidup bukan tanda Allah membenci,
tapi sering kali tanda Allah sedang mendidik dan menguatkan iman.
Allah
berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya
bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirāḥ: 5–6)
Maka
ketika hidup terasa berat, rezeki sempit, keluarga diuji, dan hati gundah —
jangan tinggalkan shalat. Justru shalatlah yang akan menguatkan kita.
Rasulullah
ﷺ bersabda:
جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dijadikan
penyejuk mataku dalam shalat.” (HR. Ahmad)
Akhirnya,
marilah kita jadikan peringatan Isrā’ Mi‘rāj sebagai momentum:
1.
Memperbaiki
shalat
2.
Menguatkan
iman
3.
Menjadikan
shalat sebagai sandaran di tengah ujian hidup
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Kepohbaru, 9 Januari 2025
Catatan:
Dibaca pada Jum'at Legi, 09 Januari 2025
Di Masjid Nurul Islam Bulu Simorejo

_11zon.png)





.png)
.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!