Ketika Waktu Tak Lagi Terasa 24 Jam

Ketika Waktu Tak Lagi Terasa 24 Jam

Pada Jumat Legi malam, 9 Januari 2026, saya berkesempatan sowan ke Ndalem Guru—orang yang selama ini, dengan caranya yang sunyi, mengawal perjalanan batin saya. Tidak banyak yang disampaikan beliau. Namun, satu kalimat pendek yang justru tinggal lama di dada. 

“Sekarang ini, sehari semalam bukan lagi 24 jam, tapi hanya 19 jam.” 

Kalimat itu tidak saya tangkap sebagai hitungan matematis. Ia datang bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan. Sebab saya yakin, dari seorang guru batin, kata-kata tidak pernah lahir tanpa maksud. Ia adalah isyarat. 

Sejak beberapa waktu terakhir, memang ada rasa yang sama-sama kita alami: waktu berjalan terasa cepat. Hari berganti sebelum benar-benar sempat kita sadari. Aktivitas menumpuk, tetapi keberkahan seolah menipis. Jam tetap berdetak 24 kali enam puluh menit, namun hati merasakan ada yang berkurang. 

Sepulang dari sowan, kalimat itu terus berputar di benak saya. Saya tidak ingin menerimanya secara buta, namun juga tidak berani menolaknya mentah-mentah. Maka saya memilih jalan tengah: merenung, mencari rujukan, dan berdiskusi. 

Karena saya tidak pernah mondok—kalau pun mengaji, hanya sebagai santri kalong—referensi kitab-kitab klasik tidak sepenuhnya saya kuasai. Maka saya mencari penjelasan dari sumber-sumber terpercaya di internet, membaca buku-buku dan kajian ilmiah tentang persepsi waktu, dan mendiskusikannya bersama seseorang. 

Dari diskusi itu, saya menemukan satu titik temu yang menenangkan: 
secara ilmiah, waktu memang tidak berkurang. Sehari tetap 24 jam. Namun secara psikologis dan spiritual, rasa waktu bisa menyusut. Rutinitas, distraksi, kelelahan mental, dan padatnya informasi membuat hari-hari terasa “terlewati”, bukan “dijalani”. 

Dalam ajaran agama, fenomena ini bahkan telah lama diisyaratkan. Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan bahwa menjelang akhir zaman, waktu akan terasa semakin singkat. Para ulama menjelaskannya bukan sebagai perubahan fisik waktu, melainkan dicabutnya barakah. 

Barakah bukan soal panjang, melainkan soal cukup. Dulu, sedikit waktu bisa melahirkan banyak amal. Kini, banyak waktu justru habis tanpa bekas. 

Maka, ketika Guru menyebut “19 jam”, barangkali yang dimaksud bukan angka, melainkan peringatan lembut: bahwa umur sedang dipercepat, kesempatan sedang dipersempit, dan kesadaran harus diperdalam. 

Diskusi ini menyadarkan saya bahwa kegelisahan terhadap waktu bukan tanda kelemahan iman, justru bisa menjadi tanda hidupnya hati. Orang yang hatinya mati tidak pernah merasa kehilangan waktu. Ia hanya sibuk, tanpa sempat bertanya. 

Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: yang perlu kita kejar bukanlah waktu yang panjang, tetapi waktu yang hadir bersama Allah. Sebab waktu yang singkat, jika disertai niat dan kesadaran, bisa bernilai panjang di sisi-Nya. 

Semoga sisa umur ini, meski terasa cepat, tetap diberkahi. Dan semoga setiap detik yang tersisa, tidak hanya berlalu, tetapi benar-benar bermakna. 

Kedungsari, Kepoh 
Menjelang Magrib, 10 Januari 2026 

Coretanku

Tak Pernah Kebetulan: Ketika Allah Mempertemukan Orang-Orang Sejalan

Tak Pernah Kebetulan: Ketika Allah Mempertemukan Orang-Orang Sejalan

Simorejo - Pak Dosen Usman Roin—yang akrab disapa Pak Usron—menuliskan sebuah catatan perjalanan bersama PCNU Bojonegoro dalam sebuah agenda di

Advertisement