Ada satu fase yang diam-diam paling jujur dalam hidup seorang penulis: bukan ketika ia kehabisan kata, tetapi ketika ia sebenarnya punya banyak hal untuk ditulis… namun tak juga menulis.
Saya sedang berada di fase itu.
Lama saya tidak menulis. Jika dilihat di blog pribadi saya Laraswangi, postingan terakhir tertanggal 3 April 2026. Artinya, hingga coretan ini saya tulis, sudah tujuh hari saya absen menulis.
Lantas, apa penyebabnya? Sibuk?
Tidak juga. Tidak sibuk-sibuk amat.
Tidak ada ide?
Ah, justru sebaliknya. Ide-ide itu banyak sekali. Saya mencatatnya di aplikasi catatan di gawai, bahkan sebagian saya titipkan di percakapan WhatsApp saya sendiri.
Lalu, kenapa tidak menulis selama itu?
Hehehe… jujur saja.
Pertama, tidak ada niat untuk menulis.
Di sinilah letak persoalannya. Niat adalah fondasi utama dalam setiap aktivitas. Tanpa niat, langkah terasa berat, bahkan untuk memulai satu kalimat pun terasa enggan.
Benarlah nasihat Rasulullah saw.:
"Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya..."
Sederhana, tetapi dalam sekali maknanya.
Kedua, mood yang rusak—bahkan hilang.
Mood juga menjadi bagian penting dalam proses menulis. Saat suasana hati sedang baik, dalam sehari bisa saja lahir lebih dari satu tulisan dan langsung dipublikasikan. Namun ketika mood rusak, jangankan satu artikel, satu atau dua kata pun terasa sulit muncul.
Banyak hal yang memengaruhi mood. Salah satunya adalah padatnya aktivitas—baik yang berkaitan dengan pekerjaan di sekolah, maupun dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat.
Ketiga, malas untuk memulai.
Ya, saya juga manusia biasa. Rasa malas itu datang, kadang tanpa permisi.
Yang lebih aneh, saya justru menyadarinya… tetapi tidak segera melawannya.
Saya malas untuk melawan rasa malas itu sendiri.
Hahaha… mumet, kan?
Malas adalah penyakit yang tidak dijual obatnya di apotek, toko kelontong, atau depot jamu mana pun. Obatnya hanya satu: dari dalam diri sendiri.
Barangkali, tujuh hari tanpa menulis ini bukan sekadar jeda. Ia seperti jeda napas—yang diam-diam mengingatkan bahwa hati juga butuh ditata ulang.
Sebab menulis, bagi saya, bukan hanya soal merangkai kata. Ia adalah cara pulang. Tempat saya berbincang dengan diri sendiri, menata yang semrawut, dan merapikan yang berserakan di dalam dada.
Maka hari ini, meski hanya beberapa paragraf sederhana, saya memilih untuk kembali duduk, membuka halaman kosong, dan memulai lagi.
Pelan-pelan saja. Tidak perlu langsung banyak. Tidak harus langsung sempurna. Yang penting… kembali menulis.
Sebab bisa jadi, yang selama ini hilang bukanlah ide, bukan pula waktu—melainkan keberanian untuk memulai.
Dan sore ini, di sudut kecil Laraswangi yang mulai teduh, saya belajar lagi satu hal sederhana: melawan malas, meski hanya dengan satu kalimat pertama.
Simorejo, 11 April 2026.









.png)

.png)




Komentar
Tuliskan Komentar Anda!