Hari ini, Kamis, 26 Maret 2026—hari kelima pasca Lebaran Idulfitri (versi pemerintah). Sejenak kami berhenti di rumah. Belum lagi melanjutkan agenda silaturahmi yang masih belum selesai.
Sebagaimana tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat kita, momen Idulfitri selalu menjadi waktu untuk saling meminta maaf dan memaafkan. Kita berkunjung ke sanak famili, menyapa tetangga kanan-kiri, mendatangi keluarga dekat maupun jauh. Tak lupa, sowan kepada para guru—mengikat kembali adab dan kenangan yang dahulu pernah ditanamkan.
Begitu pun kami—saya dan istri—ikut larut dalam tradisi itu. Kami mengajak serta dua anak kami, Zahro dan Azim, menyusuri satu per satu pintu silaturahmi.
Ada banyak harapan yang kami titipkan dalam langkah kecil mereka. Kami ingin mengenalkan mereka kepada keluarga sejak dini, menyambung tali silaturahmi yang kelak mungkin akan mereka jaga sendiri. Kami juga ingin membiasakan mereka berkunjung ke rumah tetangga kanan-kiri—sebuah hal sederhana, namun jika tak ditanamkan sejak awal, bisa saja tumbuh menjadi rasa canggung di kemudian hari.
Dalam setiap langkah silaturahmi itu, tersimpan pelajaran-pelajaran yang diam-diam mengetuk hati. Dari sekian pintu yang kami datangi, beberapa di antaranya sedang diuji dengan sakit—dari yang ringan hingga yang berat.
Di antara mereka, ada guru-guru kami. Sosok yang dahulu kami datangi dengan tubuh tegap dan suara penuh wibawa. Kini, sebagian dari mereka terbaring lemah. Ada yang tak lagi mampu menggerakkan anggota tubuhnya karena stroke. Namun, dalam keterbatasan itu, mereka tetap mengajarkan sesuatu—bukan lagi dengan papan tulis, melainkan melalui keadaan mereka sendiri.
Pelajaran itu sederhana, namun terasa begitu dalam: tentang syukur, sabar, dan ikhlas.
Bersyukur atas segala nikmat yang Allah karuniakan—terutama iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan hidup. Bersabar atas setiap ujian yang datang tanpa kita minta. Dan belajar ikhlas menerima setiap takdir yang telah Allah tetapkan.
Lebih dari itu, mereka seakan sedang mengingatkan kami—dengan bahasa yang sunyi namun tegas—tentang satu hal yang sering kita tunda untuk dipikirkan: mempersiapkan diri untuk menjemput maut.
Barangkali, di situlah makna terdalam dari silaturahmi setelah Idulfitri: bukan sekadar saling berjabat tangan dan bertukar maaf, tetapi juga saling mengingatkan—tentang rapuhnya hidup, tentang singkatnya waktu, dan tentang perlunya kembali menata arah pulang.
Sebab pada akhirnya, setiap langkah yang kita ayunkan dari satu rumah ke rumah lain itu, sejatinya adalah perjalanan kecil menuju satu tujuan yang sama: kembali kepada-Nya, dengan hati yang lebih bersih, lebih lapang, dan lebih siap.
Simorejo, 26 Maret 2026
Bakda Subuh




_(5).png)




.png)


.png)



Komentar
Tuliskan Komentar Anda!