(Refleksi di Hari Perempuan Sedunia)
Barangkali dunia sering berbicara tentang perempuan dengan angka, statistik, dan slogan perjuangan. Namun dalam kehidupan yang paling sederhana, perempuan sering hadir sebagai doa yang tidak pernah putus, sebagai kesabaran yang tidak selalu terlihat, dan sebagai cahaya yang diam-diam menjaga sebuah rumah tetap hangat.
Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Berbagai negara mengenang perjuangan panjang perempuan dalam meraih hak, keadilan, dan pengakuan atas martabat mereka.
Namun bagi seorang muslim, memuliakan perempuan bukanlah gagasan baru yang lahir dari zaman modern. Jauh sebelum dunia berbicara tentang kesetaraan, Islam telah lebih dahulu mengangkat derajat perempuan dari jurang penghinaan menuju kemuliaan.
Pada masa jahiliyah, perempuan sering dianggap tidak bernilai. Bahkan sebagian masyarakat Arab pada masa itu tega mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Lalu datang risalah Nabi Muhammad, membawa cahaya yang menegaskan bahwa perempuan adalah manusia yang memiliki kehormatan yang sama di hadapan Allah.
Al-Quran mengingatkan:
“Sesungguhnya orang-orang muslim laki-laki dan perempuan, orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan… Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 35)
Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan dalam Islam tidak diukur dari jenis kelamin, tetapi dari iman dan ketakwaan.
Dalam kehidupan keluarga, perempuan dimuliakan sebagai ibu. Bahkan Rasulullah saw. menempatkan kedudukan ibu begitu tinggi. Ketika seorang sahabat bertanya, “Siapakah orang yang paling berhak mendapatkan bakti dariku?” beliau menjawab, “Ibumu.” Hingga tiga kali sebelum menyebut ayah.
Dalam sejarah Islam, perempuan juga hadir sebagai sosok yang kuat dan berpengaruh. Ada Khadijah binti Khuwailid, perempuan mulia yang menjadi penopang dakwah Rasulullah di masa-masa awal. Ada pula Aisyah binti Abu Bakar, yang dikenal sebagai ulama besar dan perawi hadits yang ilmunya menjadi rujukan umat hingga hari ini.
Maka ketika dunia memperingati Hari Perempuan, seorang muslim dapat memaknainya sebagai pengingat: bahwa memuliakan perempuan bukan sekadar slogan, melainkan bagian dari ajaran agama.
Memuliakan perempuan berarti:
menghormati ibu,
mendidik anak perempuan dengan ilmu dan akhlak,
menjaga kehormatan mereka,
serta memberi ruang bagi mereka untuk berbuat kebaikan di tengah masyarakat.
Sebab dalam pandangan Islam, perempuan bukan hanya bagian dari kehidupan. Mereka adalah penjaga generasi, pendidik pertama manusia, dan sering kali menjadi sumber keteguhan dalam perjalanan iman.
Barangkali karena itu, Islam tidak sekadar memerintahkan manusia untuk menghormati perempuan, tetapi juga mengajarkan untuk memuliakan mereka dengan hati. Sebab perempuan sering hadir dalam hidup kita dalam bentuk yang paling sederhana, namun paling menentukan: sebagai ibu yang tak lelah mendoakan, sebagai istri yang setia menguatkan, atau sebagai anak perempuan yang menjadi cahaya penyejuk rumah.
Di banyak rumah, kita mungkin tidak selalu mendengar suara perempuan paling keras. Namun sering kali justru dari merekalah lahir doa-doa paling tulus yang menguatkan sebuah keluarga.
Ketika malam semakin sunyi dan manusia terlelap, ada ibu yang masih terjaga, menyebut nama anak-anaknya dalam doa. Ketika hidup terasa berat, ada istri yang diam-diam menahan air mata agar suaminya tetap kuat. Dan ketika dunia terasa keras, ada anak perempuan yang menjadi pengingat bahwa kelembutan masih ada.
Maka jika hari ini dunia memperingati Hari Perempuan Internasional, seorang muslim boleh menjadikannya sebagai saat untuk kembali mengingat satu hal sederhana:
bahwa memuliakan perempuan bukan sekadar perayaan satu hari, melainkan akhlak yang harus hidup setiap hari.
Sebab dari rahim perempuan lahir generasi. Dari kasih sayang mereka tumbuh manusia. Dan dari doa-doa mereka yang lirih, sering kali Allah menjaga dunia.
Simorejo, 08 Maret 2026










.png)


.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!