Parenting: Ketika Cinta Tidak Sama, Tapi Tetap Adil

Parenting: Ketika Cinta Tidak Sama, Tapi Tetap Adil

Catatan Keduabelas Puasa

Dalam dunia 
parenting hari ini, kita sering mendengar satu kalimat tegas: 
 

“Orang tua harus adil kepada semua anak.” 

Benar. Islam memang memerintahkan keadilan. Namun kita sering menyamakan adil dengan rasa yang harus sama. 

Padahal, rasa adalah wilayah hati. Dan hati tidak selalu bekerja dengan ukuran yang identik. 

Di sinilah kisah Nabi Ya'qub as. dan putranya Nabi Yusuf as. menjadi cermin besar bagi para orang tua. 

Cinta Itu Fitrah 

Al-Quran tidak menutupi fakta bahwa Yusuf lebih dicintai oleh ayahnya. Saudara-saudaranya sendiri berkata: 

“Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai ayah kita daripada kita...”  
(QS. Yusuf: 8) 

Kecemburuan itu nyata. Bahkan menjadi awal tragedi panjang. 

Namun lihat kebijaksanaan Ya’qub. 

Ketika Yusuf kecil menceritakan mimpinya yang agung—tentang bintang, matahari, dan bulan yang bersujud kepadanya—Ya’qub tidak mengumumkan keistimewaan itu. 

Ia justru berpesan dengan lembut: 

“Wahai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu…” 
(QS. Yusuf: 5) 

Ia tahu anaknya istimewa. Tapi ia juga tahu, memperlihatkan keistimewaan tanpa hikmah bisa melukai hati yang lain. 

Di sinilah letak pelajaran pertama: 
Adil bukan berarti meniadakan rasa. Adil adalah mengelola rasa dengan bijaksana. 

Saat Hati Seorang Ayah Hancur 

Ketika Yusuf dibuang ke sumur, saudara-saudaranya datang membawa baju berlumuran darah palsu. 

Bayangkan perasaan seorang ayah. Namun Ya’qub tidak meledak dalam kemarahan. Ia berkata: 

“Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku.” 
(QS. Yusuf: 18) 

Inilah shabrun jamil — kesabaran yang indah. Kesabaran yang tidak disertai amarah membabi buta. Kesabaran yang tidak berubah menjadi kekerasan. 

Ia menangis hingga matanya memutih (QS. Yusuf: 84). 
Ia manusia. Ia ayah. Ia terluka. 

Tapi ia tidak menghukum dalam keadaan emosi. 

Pelajaran kedua: 
Orang tua boleh sedih. Boleh menangis. Tapi jangan mendidik dalam keadaan marah. 

Anak yang Menyakiti, Tetap Didoakan 

Bertahun-tahun kemudian, kebenaran terungkap. Anak-anaknya menyesal. 

Apa responsnya? 

“Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku.” 
(QS. Yusuf: 98) 

Bukan cacian. Bukan pengusiran. Bukan label “anak durhaka.” 

Doa. 

Di sinilah keagungan seorang ayah terlihat: 
Ia tetap menjadi pintu ampunan, bahkan bagi anak yang pernah menyakitinya. 

Warisan Terbesar 

Menjelang wafatnya, Ya’qub tidak bertanya tentang harta. 

Ia bertanya: 

“Apa yang kalian sembah sepeninggalku?” 
(QS. Al-Baqarah: 133) 

Bukan bisnis. Bukan sawah. Bukan rumah. 

Tauhid. 

Ia ingin memastikan bahwa iman anak-anaknya selamat. Dan di sinilah kita perlu bertanya pada diri sendiri: 

Hari ini kita sibuk mewariskan apa? Tabungan? Tanah? Nama besar keluarga? Atau aqidah yang kokoh? 

Parenting Nabi Ya’qub bukan parenting tanpa masalah. Anaknya cemburu. Anaknya salah langkah. Rumahnya diuji. 

Tapi ia menjaga tiga hal: 

Pertama, Hikmah dalam menunjukkan cinta. 

Kedua, Kesabaran dalam menghadapi luka. 

Ketiga, Tauhid sebagai warisan utama. 

Dan mungkin, di situlah letak rahasianya: 

Bukan tentang membuat anak selalu patuh. Tapi tentang tetap menjadi orang tua yang bijak, bahkan saat hati hancur. 

Wallahu a’lam. 

Kepohbaru, 02 Maret 2026 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement