Al-Quran sebagai Kompas Kehidupan

Al-Quran sebagai Kompas Kehidupan

Hikmah Nuzulul Quran dari Masjid Nurul Islam

Kita patut bersyukur atas nikmat Allah Swt. yang telah kita terima. Nikmat sebagai seorang muslim sekaligus mukmin. Lebih dari itu, nikmat hidup, sehat, dan sempat. Sehingga kita ditakdirkan bertemu dengan bulan suci Ramadhan; ditakdirkan bisa melaksanakan puasa; dan dipertemukan dengan malam Nuzulul Quran. Bahkan kita juga diberi kesempatan untuk hadir dalam majelis taklim memperingati turunnya Al-Quran.

Karena itu, mari bersama kita mengucap:

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Malam itu, Jumat, 6 Maret 2026, bertepatan dengan malam 17 Ramadhan 1447 H—malam yang diperingati sebagai malam turunnya Al-Quran. Di berbagai tempat, kaum muslimin mengadakan peringatan Nuzulul Quran secara serentak.

Begitu pula di Masjid Nurul Islam, Dusun Bulu, Desa Simorejo. Malam itu diadakan majelis taklim dengan menghadirkan Kiai Mahrus dari Brangkal, Kepohbaru.

Kiai muda tersebut menyampaikan tausiah tentang keistimewaan Al-Quran dengan tema:

“Al-Quran Kompas Kehidupan Menuju Derajat Muttaqin.”

Dalam tausiahnya, beliau menjelaskan bahwa Al-Quran adalah pedoman hidup manusia sepanjang zaman. Ia bukan sekadar untuk dibaca, tetapi menjadi penunjuk arah dalam menapaki perjalanan kehidupan di dunia ini.

Apa pun masalah yang dihadapi manusia, sesungguhnya solusinya ada di dalam Al-Quran. Bahkan ketika zaman terasa semakin ruwet dan penuh kerusakan, Al-Quran tetap menjadi cahaya yang memberi jalan keluar.

Hal Itu terjawab dengan firman Allah swt. dalam Surat An-Nahl ayat 66:

“Dan sesungguhnya pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagimu. Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya (berupa susu) yang bersih, yang berada di antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat dalam.

Seekor sapi memakan rumput. Di dalam tubuhnya ada darah dan ada kotoran. Namun dari proses itu, Allah Swt. menghadirkan sesuatu yang sangat bersih: susu yang jernih dan menyehatkan.

Begitu pula kehidupan manusia di zaman sekarang. Dunia mungkin penuh kerusakan, kekacauan, dan keburukan. Tetapi orang yang berpegang pada Al-Quran akan tetap mampu melahirkan kebaikan.

Apa pun rusaknya zaman, jika seseorang menjaga dirinya dengan nilai-nilai Al-Quran, maka ia tetap akan menjadi seperti susu yang bersih di antara darah dan kotoran.

Di situlah letak keagungan Al-Quran. Ia bukan hanya kitab suci yang dibaca, tetapi kompas kehidupan yang menuntun manusia agar tetap berada di jalan yang lurus, hingga mencapai derajat muttaqin.

Malam itu, suasana Masjid Nurul Islam terasa tenang. Lampu-lampu masjid menyala lembut. Angin malam Ramadhan berhembus pelan dari arah persawahan Dusun Bulu. Para jamaah duduk bersila, mendengarkan tausiah dengan khidmat.

Di tengah keheningan itu, ayat tentang susu dalam perut sapi terasa begitu dekat dengan kehidupan kita.

Zaman boleh berubah. Dunia boleh semakin ruwet. Di sekeliling kita mungkin ada banyak hal yang kotor, keruh, bahkan memusingkan. Namun Al-Quran mengajarkan bahwa seorang mukmin tetap bisa menghadirkan kebaikan di tengah semua itu.

Seperti susu yang keluar dari antara darah dan kotoran—tetap bersih, tetap menyehatkan, tetap memberi manfaat bagi siapa saja yang meminumnya.

Mungkin itulah salah satu pesan indah dari malam Nuzulul Quran: 
bahwa di tengah zaman yang sering terasa gelap, Al-Quran selalu memberi jalan agar manusia tetap menjadi jernih, baik, dan bermanfaat.

Dan Ramadhan adalah saat terbaik untuk kembali belajar menjadi seperti itu.

Simorejo, 07 Maret 2026

Pukul 00.20 WIB

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement