Catatan Ketigabelas Puasa
Bakda Subuh tadi, sambil menyeruput teh hangat, Akak ngaji online bersama KH. Ahmad Asnawi, Pengasuh Ponpes Darun Na'im - Padurenan Gebog Kudus. Temanya sederhana, tapi dalam sekali: tentang malu.
Kadang kita dengar orang bilang, “Ah, jangan malu-malu, dong!”
Seolah-olah malu itu penghambat kemajuan.
Padahal dalam Islam, malu justru tanda hati masih hidup.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Iman itu memiliki tujuh puluh sekian cabang… dan rasa malu adalah bagian dari iman.” (HR. Shahih Muslim, no. 35)
Artinya apa?
Kalau seseorang masih punya rasa malu karena Allah, itu pertanda imannya masih menyala.
Malu Itu Bukan Minder
Malu dalam Islam bukan berarti tidak percaya diri. Bukan takut tampil. Bukan juga tidak berani berbicara.
Malu itu sadar diri.
Sadar bahwa Allah melihat.
Allah sudah mengingatkan dalam Al-Quran:
“Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat?” (QS. Al-Qur'an, Al-‘Alaq: 14)
Kalimat ini sederhana, tapi kalau direnungi, cukup membuat kita berpikir dua kali sebelum berbuat dosa.
Mau maksiat… tapi Allah melihat. Mau berkata kasar… tapi Allah mendengar.
Di situlah malu bekerja.
Kalau Malu Hilang…
Ada satu hadis yang cukup “menyentil”:
“Jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Shahih Bukhari, no. 3483)
Ini bukan perintah bebas, tapi sindiran keras. Kalau rasa malu sudah hilang, orang bisa melakukan apa saja tanpa merasa bersalah.
Coba lihat zaman sekarang. Aib dipamerkan. Urusan pribadi diumbar. Berkata kasar dianggap biasa.
Bukan karena orang tidak tahu itu salah. Tapi karena rasa malu sudah menipis.
Malu yang Baik dan yang Tidak
Tidak semua malu itu baik.
Malu yang baik misalnya:
Malu meninggalkan salat. Malu berkata kotor. Malu berbuat zalim. Malu membuka aurat.
Tapi ada juga malu yang keliru:
Malu belajar agama. Malu bertanya karena takut dibilang bodoh. Malu berhijab karena takut komentar orang.
Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar pernah memuji wanita Anshar yang tetap bertanya soal agama meskipun topiknya sensitif. Artinya, malu jangan sampai menghalangi kebenaran.
Intinya Sederhana.
Kalau kita masih merasa tidak enak hati ketika hendak berbuat dosa, itu kabar baik. Berarti hati kita belum mati.
Malu itu seperti alarm dalam jiwa. Ia berbunyi sebelum kita melangkah terlalu jauh.
Maka jangan hilangkan rasa malu. Rawat ia. Karena semakin kuat iman seseorang, biasanya semakin dalam rasa malunya—terutama malu kepada Allah.
Semoga Allah menjaga hati kita, agar tetap punya rasa malu yang benar. Malu yang membuat kita lembut, bukan lemah. Malu yang membuat kita terjaga, bukan terhina.
Simorejo, 03 Maret 2026
Bakda Subuh


_(3)_11zon.png)







.png)



Komentar
Tuliskan Komentar Anda!