Catatan Kelima belas Puasa
Dua hari ini cuaca begitu cerah. Matahari menyengat dengan terik yang terasa hingga ke kulit. Panasnya berbeda sekali dengan hari-hari sebelumnya yang lebih sering diselimuti mendung dan hujan sejak pagi.
Perubahan cuaca ini mulai terasa bagi Azim, siswa kelas 2 MI. Di tengah panas yang menyala, tubuh kecilnya tampak lebih mudah lelah saat berpuasa. Siang itu ia memilih tidur—sesuatu yang biasanya tidak pernah ia lakukan.
Namun, meski wajahnya tampak letih, tak sedikit pun terucap keinginan untuk berpuasa setengah hari. Ia tetap bertahan menyempurnakan puasanya hingga Maghrib. Hari itu adalah hari kelima belas baginya. Setengah perjalanan telah ia lalui.
Meski berat dan menahan kantuk, ia tetap berangkat mengaji di TPQ, tempat ia belajar Al-Qur’an sejak dini.
Bagi orang dewasa, berpuasa di tengah cuaca terik mungkin sudah menjadi hal biasa. Tetapi bagi seorang bocah yang baru belajar menahan lapar dan dahaga, mampu bertahan seharian penuh adalah sesuatu yang istimewa.
Saya kembali teringat dawuh Kiai Mahrus: puasa adalah ibadah yang rahasia. Tak ada yang benar-benar tahu kecuali diri kita dan Allah Swt. Lapar bisa saja disembunyikan. Haus bisa saja diakhiri diam-diam. Namun kejujuran dalam berpuasa—itulah yang menjadi timbangannya.
Dan puasa memang ibadah yang berat. Ia bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga melatih kesabaran, keteguhan, dan keikhlasan. Jika tidak dibiasakan sejak kecil, mungkin kelak ia akan terasa semakin sulit.
Barangkali beginilah cara Allah menanamkan kekuatan—sedikit demi sedikit, lewat hari-hari yang terik.
Dan di hari kelima belas itu, seorang bocah kecil telah belajar satu hal besar: bertahan, meski tak ada yang melihat.
Kecuali Allah.
Kedungsari, Kepoh, 5 Maret 2026




_(3)_11zon.png)






.png)



Komentar
Tuliskan Komentar Anda!