Menembus Hujan, Menjemput Cahaya

Menembus Hujan, Menjemput Cahaya

Catatan Keempatbelas Puasa 

Menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya ketika mendapat kesempatan mendampingi istri menyelesaikan tugasnya di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Di tengah kesibukan dan dalam keadaan berpuasa, perjalanan itu terasa berbeda—lebih bermakna. Ada rasa syukur karena bisa membersamai, bukan sekadar mengantar. 

Selain mendampingi istri, saya juga menyimpan satu tujuan kecil yang sejak pagi sudah membuat hati berdebar: mampir ke toko buku. Saya berniat mencari buku #Reset Indonesia dan beberapa kitab yang sudah lama masuk daftar keinginan. 

Perjalanan sejauh kurang lebih 32 kilometer kami tempuh sekitar satu jam. Jalan cor kami susuri dengan Vario 125 merah kesayangan. Angin siang Ramadhan terasa hangat, perut kosong, tapi hati justru terasa penuh. Puasa seperti mengajarkan bahwa semangat tidak selalu bergantung pada energi fisik. 

Alhamdulillah, urusan istri selesai tanpa kendala. Setelah jamaah Zuhur di Masjid Al-Falah, Kelurahan Sumbang, Bojonegoro, kami melanjutkan perjalanan menuju Toko Buku Salemba di Jalan Pemuda Timur. 

Dari luar, bangunannya tampak megah dan modern. Begitu masuk ke dalam, kesan luas dan terang langsung menyambut. Isinya bukan hanya buku, tetapi juga perlengkapan kantor, alat tulis, hingga berbagai aksesori. Kami segera menuju rak-rak yang dipenuhi ratusan judul buku. 

Saya menelusuri satu per satu, berharap menemukan buku yang saya cari. Rak demi rak telah disisir, judul demi judul telah diperiksa. Namun buku yang dimaksud belum juga tampak. Ada sedikit rasa kecewa, tentu saja. Tapi mungkin memang belum waktunya. 

Akhirnya, kami memutuskan membeli dua komik Next G untuk Azim: Pentingnya Halal dan Damai Bersama Al-Quran. Rasanya menyenangkan membayangkan wajahnya saat menerima buku-buku itu. 

Perjalanan pulang justru diwarnai hujan lebat. Butir-butir air turun deras, membasahi jalanan dan jaket kami. Di atas motor, saya sempat berpikir: kadang yang kita cari belum tentu kita dapatkan. Tetapi Allah sering menggantinya dengan kebahagiaan dalam bentuk lain. 

Sesampainya di rumah, buku itu langsung kami sodorkan kepada Azim. Wajahnya berbinar. Tanpa menunggu lama, ia membuka halaman pertama dan mulai membaca dengan serius. 

Kurang dari satu jam, kedua buku itu sudah selesai dilahapnya. 

“Ceritanya bagus banget,” katanya antusias. 

Kami mencoba menanyainya tentang isi cerita. Dengan lancar ia menceritakan kembali alurnya, juga pesan yang ia tangkap. Bahkan, matanya langsung tertuju pada halaman akhir buku yang menampilkan judul-judul lain. 

“Ayah, nanti beli yang ini lagi ya…” 

Perjalanan 32 kilometer itu akhirnya mengajarkan satu hal sederhana pada saya: tidak semua yang kita cari harus kita temukan hari itu juga. Ada keinginan yang ditunda agar kita belajar tentang sabar. Ada rencana yang meleset agar kita memahami takdir dengan lapang. 

Ramadhan memang selalu melatih kita seperti itu. 

Kita menahan lapar bukan sekadar menunggu azan Magrib. Kita sedang menanam sesuatu yang tidak selalu terlihat hasilnya hari ini. Kita sedang berlatih menunda, mengendalikan, dan memilih yang lebih bernilai. 

Dan sore itu, ketika melihat Azim tenggelam dalam bacaan—matanya berbinar, lisannya lancar menceritakan kembali isi komik yang baru saja ia tamatkan—saya seperti diingatkan kembali tentang makna investasi yang sesungguhnya. 

Buku mungkin hanya kertas dan tinta. Tetapi di tangan anak yang mencintainya, ia bisa menjadi cahaya. Ia bisa menjaga akidahnya. Ia bisa menjadi jembatan menuju Al-Quran. 

Di bulan Ramadhan, ketika setiap amal dilipatgandakan, membelikan buku yang mendekatkan anak pada nilai halal dan Al-Quran terasa seperti menanam pohon yang buahnya akan dipetik bertahun-tahun kemudian. 

Boleh jadi, saya belum menemukan buku #Reset Indonesia yang saya cari. Tapi Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih sunyi, lebih dalam: kebahagiaan melihat anak mencintai ilmu. 

Dan mungkin, di situlah letak reset yang sebenarnya. 

Bukan sekadar reset bangsa. Tapi reset hati. Reset cara memandang rezeki. Reset tentang apa yang layak diperjuangkan. 

Hujan sore itu masih menyisakan dingin. Namun di ruang tamu kecil kami, ada kehangatan yang tak bisa dibeli oleh apa pun: seorang anak yang membaca dengan gembira, di bulan yang penuh berkah. 

Dan saya tahu, perjalanan itu tidak sia-sia. 

Simorejo, 04 Maret 2026 

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement