Catatan Keenam belas puasa
Pagi tadi, Jumat Pahing, 6 Maret 2026, selepas Subuh di langit dusun, udara masih terasa dingin. Embun menempel di ujung daun pisang di halaman rumah. Ayam jantan bersahut-sahutan, seolah ikut menyambut datangnya cahaya hari.
Dalam suasana tenang itu di serambi masjid kebanggaan kami, saya membuka mushaf Al-Quran. Tadarus dilakukan perlahan, ayat demi ayat dilafalkan, karena malam nanti akan ada Khatmil Quran dalam rangka memperingati Nuzulul Quran.
Sampai kemudian mata berhenti pada beberapa ayat dari Surah Al-Ma‘ārij.
Ayat itu terasa seperti cermin yang menampakkan wajah manusia apa adanya.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat, yaitu mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya.” (QS. Al-Ma‘ārij: 19–23)
Ayat ini sangat jujur menggambarkan tabiat manusia.
Ketika ditimpa kesulitan, manusia mudah sekali panik. Hatinya resah. Lisannya penuh keluhan. Seakan dunia runtuh hanya karena satu ujian kecil yang datang.
Namun ketika nikmat datang, manusia juga sering berubah. Harta yang dulu terasa cukup ketika sedikit, tiba-tiba terasa kurang ketika menjadi banyak. Tangan yang dulu ringan memberi, perlahan menjadi berat untuk berbagi.
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata halū‘ menggambarkan sifat manusia yang tidak sabar ketika diuji dan kikir ketika diberi nikmat.
Sungguh, ini potret manusia yang sangat nyata.
Betapa sering kita melihat seseorang begitu kuat ketika hidupnya tenang, tetapi mudah rapuh ketika ujian datang. Sebaliknya, ada pula yang dulu sederhana dan dermawan, namun berubah menjadi sangat perhitungan ketika kehidupannya menjadi lebih lapang.
Al-Quran tidak menutup-nutupi kenyataan itu. Ia menyebutnya dengan sangat jelas.
Tetapi Allah tidak berhenti pada diagnosis. Allah juga memberi jalan keluar.
“Illal muṣallīn.”
Kecuali orang-orang yang menjaga salat.
Di sinilah rahasia besar itu.
Shalat bukan hanya sekadar gerakan berdiri, rukuk, dan sujud. Shalat adalah latihan jiwa yang terus menerus.
Ketika seseorang berdiri menghadap Allah lima kali sehari, ia sedang belajar bahwa hidup ini tidak sepenuhnya berada dalam genggamannya.
Ketika ia rukuk, ia sedang belajar merendahkan diri.
Ketika ia sujud, ia sedang mengakui bahwa manusia hanyalah hamba yang lemah di hadapan Tuhannya.
Orang yang menjaga salat dengan istikamah akan memiliki hati yang lebih tenang.
Ketika musibah datang, ia tidak mudah panik, karena ia tahu ada tempat untuk bersandar.
Ketika nikmat datang, ia tidak mudah kikir, karena ia sadar semua itu hanyalah titipan.
Maka salat sebenarnya adalah terapi jiwa yang paling dalam.
Ia menenangkan kegelisahan. Ia melembutkan hati yang keras. Ia mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam keluhan yang tak berujung.
Mungkin inilah sebabnya Al-Quran tidak mengatakan sekadar orang yang salat, tetapi:
“Alladzīna hum ‘alā ṣalātihim dā’imūn.”
Mereka yang menjaga salatnya secara terus-menerus.
Karena yang mengubah jiwa bukan hanya salat sesekali, tetapi salat yang dijaga dengan istikamah.
Pagi ini, ayat itu terasa seperti nasihat yang sangat lembut dari Al-Quran.
Bahwa mengeluh adalah sifat manusia. Tetapi Allah tidak membiarkan manusia terjebak dalam kelemahan itu.
Allah memberikan jalan untuk memperbaikinya.
Jalan itu bernama salat.
Dan mungkin inilah salah satu hikmah terbesar dari malam yang akan kita peringati.
Malam Nuzulul Quran.
Malam ketika Al-Quran pertama kali diturunkan sebagai cahaya bagi manusia.
Al-Quran tidak hanya memberi hukum. Ia juga menyentuh jiwa manusia yang paling dalam. Ia memahami kegelisahan kita, kelemahan kita, bahkan keluhan-keluhan kecil yang sering kita sembunyikan di dalam hati.
Lalu Al-Quran membimbing kita dengan sangat lembut.
Ketika hati gelisah, kembalilah kepada Allah. Ketika hidup terasa berat, berdirilah dalam salat. Ketika nikmat datang, ingatlah bahwa semuanya adalah amanah.
Malam ini mungkin kita akan berkumpul untuk Khatmil Quran. Mushaf-mushaf dibuka, ayat-ayat dilantunkan, doa-doa dipanjatkan dengan harap yang dalam.
Namun sesungguhnya yang paling penting bukanlah sekadar menamatkan bacaan Al-Quran.
Yang lebih penting adalah membiarkan Al-Quran menata kembali hati kita.
Agar kita tidak mudah mengeluh ketika diuji. Dan tidak mudah lupa diri ketika diberi nikmat.
Karena manusia yang paling kuat bukanlah mereka yang hidupnya selalu mudah.
Melainkan mereka yang tetap berdiri dalam salatnya, apa pun keadaan yang sedang menimpa hidupnya. Dan dari situlah ketenangan perlahan tumbuh di dalam jiwa.
Simorejo, 06 Maret 2026





_(3)_11zon.png)





.png)



Komentar
Tuliskan Komentar Anda!