Kadang kita begitu mudah melihat kekurangan orang lain, tetapi begitu sulit menengok ke dalam diri sendiri. Padahal, perubahan besar di dunia sering kali tidak dimulai dari keramaian perdebatan, melainkan dari hati yang diam-diam sedang belajar memperbaiki dirinya di hadapan Allah.
Ramadhan selalu menghadirkan ruang hening untuk merenung. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial, kita sering merasa lelah menghadapi manusia—dengan segala perbedaan, kekecewaan, dan kesalahpahaman yang menyertainya.
Pagi ini, saat menyimak kajian singkat dari Kang Hasyim di TikTok, hati saya seperti diingatkan kembali pada satu nasihat lama para ulama: seorang Muslim tidak boleh terlalu sibuk memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki dirinya sendiri.
Dalam kehidupan bermasyarakat, masalah hampir selalu hadir. Interaksi dengan manusia kadang menghadirkan kebingungan, kekecewaan, bahkan luka perasaan. Namun para ulama salaf mengingatkan bahwa jalan terbaik bukanlah sibuk mengoreksi orang lain, melainkan memulai dari diri sendiri.
Dalam Islam, urutan perhatian seorang Muslim sebenarnya sangat jelas. Perbaikan itu dimulai dari diri sendiri, lalu merambat kepada keluarga, dan setelah itu barulah kepada masyarakat. Jangan sampai seseorang terlalu sibuk mengurusi kesalahan orang lain, sementara keluarganya sendiri justru terabaikan.
Hikmah Ulama tentang Memperbaiki Diri
Para ulama salaf menyampaikan sebuah hikmah yang sangat dalam maknanya:
مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ
وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ
Artinya
“Barangsiapa memperbaiki apa yang tersembunyi dalam dirinya, maka Allah akan memperbaiki apa yang tampak darinya. Dan siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.”
Dalam hikmah ini terdapat kata sarīrah, yaitu keadaan batin: niat, rahasia hati, dan amal-amal tersembunyi yang tidak diketahui manusia.
Jika seseorang memperbaiki niatnya, bertaubat dari dosa-dosa yang tersembunyi, serta memurnikan keikhlasannya kepada Allah, maka Allah akan memperindah akhlaknya di hadapan manusia. Begitu pula dalam hubungan sosial. Ketika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah—melalui ibadah, taubat, dan keikhlasan—Allah akan memudahkan hubungannya dengan manusia.
Atsar ini disebutkan oleh para ulama dalam beberapa kitab, di antaranya Hilyat al-Auliya karya Abu Nu‘aim al-Ashfahani dan Shu'ab al-Iman karya Al-Baihaqi.
Menjaga Diri dan Keluarga
Al-Qur'an sendiri memberikan pedoman yang sangat jelas tentang urutan tanggung jawab seorang Muslim. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Para ulama tafsir, di antaranya Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan seorang mukmin untuk mendidik keluarganya dalam iman, mengajarkan ilmu agama, menjaga mereka dari kemaksiatan, serta membimbing mereka menuju ketaatan.
Dengan kata lain, tanggung jawab pertama seorang Muslim bukanlah dunia luar, tetapi rumahnya sendiri.
Belajar Memulai dari Diri
Nasihat ini terasa sangat relevan di zaman sekarang. Media sosial sering membuat seseorang mudah mengomentari kesalahan orang lain. Banyak yang sibuk memperbaiki dunia, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri.
Padahal para ulama salaf telah mengajarkan jalan yang lebih tenang dan lebih dalam: perbaiki hubungan dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungan kita dengan manusia.
Barangkali itulah salah satu pelajaran penting yang bisa kita renungkan di penghujung Ramadhan ini. Bahwa perubahan besar di dunia sering kali bermula dari sesuatu yang sangat kecil—sebuah hati yang diam-diam sedang belajar memperbaiki dirinya di hadapan Allah.
Sebab sebelum kita berharap dunia menjadi lebih baik, mungkin ada satu tempat yang terlebih dahulu harus kita benahi: diri kita sendiri.
Simorejo, 18 Maret 2026
Bakda Shubuh



_(5).png)






.png)


.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!