Murojaah di Pusara Ayah

Murojaah di Pusara Ayah

Oleh: Slamet Widodo, S.Pd.*)


Rajab telah berlalu. Kini Sya’ban sudah berada di pertengahan, sebentar lagi menua menuju akhir. Alam seakan bersiap menyambut datangnya bulan agung nan mulia: Ramadan.

Orang-orang di tanah Jawa, khususnya di Dusun Laraswangi, mulai sibuk dengan tradisi megengan—sebuah laku menyambut bulan suci dengan hajatan kirim doa kepada para leluhur. Mereka menanak nasi putih, melengkapinya dengan aneka lauk-pauk. Ada satu hidangan yang tak boleh terlewatkan: kue apem. Makanan-makanan itu ditata rapi ke dalam kotak, lalu dibungkus plastik kresek putih dan diikat pada bagian ujungnya.

Setelah semuanya siap, tetangga kanan-kiri serta sanak saudara dekat diundang ke rumah untuk bersama-sama membaca tahlil dan doa arwah. Semua dipanjatkan untuk keluarga yang telah wafat, para ahli kubur.

Ada pula yang memilih cara lebih sederhana: mengantarkan makanan itu kepada sanak saudara dan handai taulan. Sedekah makanan, dengan tujuan yang sama—doa dan ingatan.

***

Senja menguning di ufuk barat. Langit Laraswangi tampak cerah dan lapang. Burung-burung satu per satu kembali ke sarangnya. Tak lama kemudian, azan Magrib berkumandang. Suara khas Mbah Umbar—yang setia mengumandangkan azan setiap waktu salat—mengalun memenuhi cakrawala, menandai datangnya malam dan semakin dekatnya Ramadan.

Usai jamaah Magrib, satu per satu jamaah pulang ke rumah masing-masing. Mereka mengambil berkat berisi tumpeng kecil yang telah tersedia sejak sebelum Magrib untuk dibawa ke serambi masjid. Di sana, mereka kembali berkumpul menggelar tahlil kubra yang dipimpin oleh sesepuh Dusun Laraswangi.

“Buk, Ibu tidak membuat tumpeng seperti orang-orang?” tanya Afna Zahira. Ia masih mengenakan atasan mukena dan memeluk mushaf kesayangannya—hadiah dari ayah tercinta saat pertama kali ia masuk pondok.

Bu Muddah diam mematung. Matanya berkaca-kaca saat memandangi wajah polos putrinya yang baru duduk di kelas VIII MTs itu. Afna menatap ibunya lekat-lekat. Tak lama kemudian, air mata keduanya menetes, saling mengerti tanpa banyak kata.

“Tidak, Nduk. Tidak ada yang membawa tumpeng ke masjid. Adikmu juga masih kecil,” ucapnya serak, lirih namun jelas terdengar oleh putri pertamanya itu.

“Nggih, Buk. Afna mengerti,” jawab Afna singkat, masih berdiri di hadapan ibunya.

“Ibu tadi sudah membuat makanan. Sudah ibu antar ke rumah tetangga dan keluarga dekat,” tutur Bu Muddah lembut.

Afna mengangguk. Ia lalu kembali ke kamarnya untuk melanjutkan muroja’ah.

***

Satu minggu menjelang Ramadan, Afna mendapat libur pondok. Kini ia lebih dekat dengan kegiatan di rumah. Ia banyak membantu ibunya: momong adiknya, Faqih, yang masih duduk di bangku kelas I MI, serta menandai kitab-kitab yang belum sempat dimaknai saat mengaji di pondok. Meski sibuk, Afna tetap menyempatkan diri untuk muroja’ah.

Di tengah lantunan hafalannya, tiba-tiba ia teringat nasihat Kiai Wahib, pengasuh Pesantren Madrasah (Pesmad) Darul Fikri.

“Al-Qur’an itu sangat pencemburu. Maka jangan pernah menduakannya. Karena itu, para santri, jangan dulu pacaran, supaya hafalannya cepat bertambah dan tidak mudah hilang,” tutur beliau suatu malam di musala Pesmad.

Afna menguatkan tekad di dalam hatinya untuk mengikuti nasihat sang kiai.

“Hadiah bagi para penghafal Al-Qur’an bukan hanya untuk dirinya sendiri. Orang tuanya pun kelak akan dikenakan mahkota dari emas di akhirat,” pesan itu kembali terngiang, terasa semakin mantap.

Tak terasa, air mata Afna menetes di atas mushaf yang terbuka di pangkuannya. Ia teringat janjinya kepada Ayah, saat pamit berangkat mondok dulu.

***

Malam itu, koper Afna telah tertutup rapi di sudut kamar. Mushaf kecil berbalut sampul hijau muda tergeletak di atasnya. Ayah duduk bersila di dipan kayu, sementara Afna bersimpuh di hadapannya.

“Ndhuk, besok Afna berangkat mondok, ya?” suara Ayah lembut, nyaris berbisik.

“Nggih, Yah,” jawab Afna pelan, menunduk.

Ayah mengangguk pelan. Tangannya meraih mushaf itu, lalu meletakkannya kembali di pangkuan Afna.

“Ini temanmu kelak. Jangan hanya dibaca, tapi disimpan di hati,” ucapnya lirih.

Afna mengangguk. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.

“Ayah dulu tidak punya apa-apa untuk diwariskan,” lanjut Ayah sambil tersenyum tipis. “Tidak sawah luas, tidak rumah besar. Yang Ayah punya hanya ayat-ayat ini.”

Ia mengetuk pelan mushaf di pangkuan Afna.

“Kalau Afna mau menjaganya, itu sudah lebih dari cukup bagi Ayah.”

Air mata Afna mulai menggenang.

“Afna takut, Yah,” ucapnya jujur. “Takut tidak kuat, takut lupa, takut mengecewakan Ayah.”

Ayah tersenyum, lalu mengusap kepala putrinya.

“Hafalan itu bukan soal kuat atau tidak. Tapi soal setia,” katanya. “Kalau suatu hari Afna lupa, ulangi. Kalau lelah, berhenti sebentar. Tapi jangan pernah pergi.”

Ayah menatap Afna lekat-lekat.

“Ayah tidak menuntut Afna jadi seperti Ayah. Tapi Ayah berharap, kelak ayat-ayat ini terus hidup. Kalau bukan di dada Ayah, biarlah ia berlanjut di dadamu.”

Air mata Afna jatuh satu per satu.

“Insyaallah, Yah,” jawabnya terbata. “Afna akan jaga.”

Ayah menarik napas panjang, lalu berdoa lirih.

“Ya Allah, titipkan anakku pada-Mu. Jadikan Al-Qur’an sahabatnya, penenangnya, dan penunjuk jalannya.”

Afna mencium tangan Ayah erat-erat. Ia tak tahu, malam itu adalah salah satu janji terakhir yang akan ia pegang seumur hidup.

***

Pagi itu, setelah membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah—memasak, mencuci, dan membereskan apa yang perlu—Bu Muddah mengajak Afna dan adiknya berziarah ke pusara Ayah.

“Nduk, ayo kita sowan Bapak,” ucap Bu Muddah lirih, seolah takut suaranya mengusik kenangan.

Mereka berangkat dengan sepeda motor. Bu Muddah membonceng Afna, sementara Faqih duduk di depan, memeluk setang dengan tangan kecilnya. Jalan setapak menuju makam desa mereka lalui perlahan. Angin pagi menyentuh wajah Afna, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang masih menyimpan embun.

Tak lama, mereka sampai.

Pusara itu sederhana. Hanya gundukan tanah yang masih tampak baru. Batu nisan kecil berwarna putih bertuliskan nama dan tanggal wafat pemiliknya, ujungnya saja yang menyembul dari tanah—tanda bahwa makam itu belum lama, baru Ramadhan tahun lalu. Di sekelilingnya, rumput liar tumbuh malu-malu, seakan ikut menjaga kesunyian.

Bu Muddah duduk bersimpuh di sebelah barat pusara suaminya, menghadap ke timur. Tangannya gemetar saat merapikan tanah di atas makam. Faqih ikut jongkok di samping ibunya, menirukan gerakan tanpa banyak bertanya. Afna berdiri sejenak, menatap pusara itu dalam-dalam. Dadanya kembali terasa sesak, namun kini ia mencoba menguatkan diri.

Ia lalu duduk bersila di samping ibunya. Mushaf kecil itu kembali berada di pangkuannya.

“Yah…” bisiknya, hampir tak bersuara.

Afna membuka mushaf. Ayat-ayat yang dulu sering dibaca bersama Ayahnya terhampar di hadapannya. Ia menarik napas, lalu mulai muroja’ah—pelan, tertata, seakan takut satu huruf pun terjatuh.

Lantunan ayat itu mengalir lirih di antara nisan dan angin pagi. Bu Muddah menunduk, air matanya jatuh ke tanah. Faqih memandangi kakaknya, lalu ikut menadahkan tangan kecilnya.

Di pusara sederhana itu, Al-Qur’an kembali dihidupkan.
 Bukan hanya sebagai bacaan,
 melainkan sebagai janji yang ditepati.

Afna menutup mushafnya perlahan.

“Afna sedang menjaga titipan Ayah,” katanya dalam hati. “Sedikit demi sedikit. Pelan-pelan. Tapi Afna tidak pergi.”

Dan di antara doa-doa yang mengambang di udara pagi Laraswangi, ayat-ayat itu seakan pulang—menemukan rumahnya kembali.

Tak ada suara selain desir angin dan doa yang dipanjatkan pelan. Di pusara itu, Afna belajar bahwa kehilangan tidak selalu berarti berpisah. Ada yang tetap tinggal—dalam ayat-ayat yang dihafalkan, dalam doa-doa yang tak putus, dan dalam janji yang terus dijaga meski raga telah kembali ke tanah.

Ayahnya telah pergi, tetapi jejaknya tidak. Ia hidup dalam setiap huruf yang Afna ulangi, dalam setiap jeda napas yang ia gunakan untuk tetap setia pada Al-Qur’an.

Dan di pagi yang hening itu, Afna mengerti:
 muroja’ah bukan sekadar mengulang hafalan,
 melainkan cara paling sunyi untuk mencintai seseorang yang telah lebih dulu dipanggil pulang.

Di pusara Ayah yang sederhana itu, Afna bermuroja’ah—menjaga ayat, menjaga janji, dan menjaga cinta agar tak ikut terkubur bersama tanah.


Dimuat di majalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA) edisi Maret 2026.

*) Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement