Malam Sanga dan Sebuah Cerita dari Laraswangi

Malam Sanga dan Sebuah Cerita dari Laraswangi

Bagi saya pribadi, Jumat malam selalu menjadi malam yang mendebarkan. Malam penantian. Malam penuh harap. Bahkan kadang terasa seperti malam yang menyimpan misteri: kejutan apa yang akan saya terima?

Setiap Jumat malam menuju Sabtu, saya hampir selalu begadang hingga lewat pukul 00.01 WIB. Pada saat itulah saya membuka lebih awal edisi digital Radar Bojonegoro yang terbit setiap Sabtu. Saya menunggu satu hal dengan penuh harap: apakah cerpen yang saya kirim dimuat di rubrik Lembar Budaya.

Malam ini, Sabtu, 14 Maret 2026, tepat pukul 00.01 WIB, penantian itu tidak sia-sia. Rasa lelah karena menahan kantuk seketika terbayar. Rasa bahagia membuncah, dan ucapan syukur terus terucap.

Alhamdulillah. Cerpen berjudul “Malam Sanga” yang saya kirim akhirnya dimuat di halaman Lembar Budaya Jawa Pos Radar Bojonegoro. Bagi saya pribadi, ini menjadi cerpen ke-14 yang dimuat di koran tersebut.

Lebih istimewa lagi, cerpen ini terbit pada momen yang terasa sangat pas: sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, tepat pada malam 24, menjelang malam 29 Ramadan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, khususnya di Kabupaten Bojonegoro tempat saya tinggal, malam ini sering disebut Malam Sanga—malam kesembilan menjelang berakhirnya Ramadan.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, Malam Sanga dipandang sebagai malam yang sakral. Bahkan dalam pemberitaan Radar Bojonegoro edisi 11 Maret 2026, disebutkan bahwa ada 484 pasangan calon pengantin yang berencana melangsungkan pernikahan pada Malam Sanga tahun ini.

Barangkali bagi sebagian orang, Malam Sanga hanyalah penanda bahwa Ramadan hampir beranjak pergi. Namun bagi saya, malam ini selalu terasa berbeda. Ada sunyi yang lebih dalam, ada harap yang menggantung lebih lama di langit doa. Di saat banyak orang menanti keberkahan malam-malam ganjil, saya menunggu dengan cara yang sangat sederhana: menanti sebuah kabar kecil dari halaman koran. Dan ketika cerpen Malam Sanga benar-benar terbit pada malam yang bernama sama, hati saya merasa seolah tulisan itu pulang ke tempat yang tepat—di sebuah malam yang sakral, sunyi, dan penuh harapan. Mungkin beginilah cara Allah memberi kejutan kecil kepada hamba-Nya yang gemar menunggu dengan sabar.

Simorejo, 14 Maret 2026

Bakda Shubuh

Coretanku

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Rezeki Anak Sudah Allah Titipkan

Di setiap kesempatan, di mana pun dan kapan pun kita berada, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Peristiwa-peristiwa kecil sering kali menyimpan

Advertisement