Warisan Terbaik Itu Bernama Akal dan Adab

Warisan Terbaik Itu Bernama Akal dan Adab

Ada kalimat hikmah yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib karromallahu wajhah. Pendek, namun menghunjam dalam: 

لَا مَالَ أَعْوَدُ مِنَ الْعَقْلِ، وَلَا فَقْالْأَدَبِرَ أَشَدُّ مِنَ الْجَهْلِ، وَلَا مِيرَاثَ أَفْضَلُ مِنَ  

“Tidak ada kekayaan yang lebih bermanfaat daripada akal.  Tidak ada kemiskinan yang lebih parah daripada kebodohan. Dan tidak ada warisan yang lebih baik daripada (pendidikan) adab.” 

Kalimat ini sederhana, tetapi jika direnungkan perlahan, ia seperti membuka satu demi satu pintu kesadaran dalam hidup kita. 

 

Akal: Kekayaan yang Tak Pernah Habis 

Sering kali manusia mengukur kaya dari apa yang tampak di tangan: rumah, kendaraan, atau simpanan. Padahal dalam pandangan Islam, kekayaan sejati justru ada pada sesuatu yang tak kasat mata—akal. 

Dengan akal, seseorang mampu memahami wahyu, menimbang yang benar dan yang salah, serta memilih jalan hidup dengan bijak. Akal menjadikan seseorang tetap “bernilai”, bahkan ketika ia tak memiliki apa-apa secara materi. 

Betapa banyak orang sederhana, tetapi ucapannya didengar. Hidupnya bersahaja, tetapi kehadirannya menentramkan. Itulah tanda kekayaan akal—yang tidak berisik, tetapi berpengaruh. 

 

Kebodohan: Kemiskinan yang Tak Disadari 

Jika kemiskinan harta terasa menyakitkan, maka kebodohan sering kali lebih berbahaya—karena tidak selalu disadari. 

Orang yang miskin harta masih bisa berusaha. Namun orang yang miskin ilmu, ia bisa tersesat tanpa merasa salah. Ia mudah tertipu, mudah terprovokasi, bahkan kadang merusak dirinya sendiri tanpa sadar. 

Di sinilah letak beratnya kebodohan: ia bukan sekadar kekurangan, tetapi bisa menjadi sumber kerusakan. 

 

Adab: Warisan yang Melampaui Zaman 

Harta bisa habis. Jabatan bisa hilang. Namun adab dan ilmu—keduanya adalah warisan yang tak lekang oleh waktu. 

Seorang anak yang dibekali adab, ia akan tahu bagaimana bersikap, bahkan saat orang tuanya sudah tiada. Seorang murid yang diberi ilmu, ia akan terus menebar manfaat, bahkan setelah gurunya wafat. 

Inilah yang ditegaskan dalam sabda Nabi saw.: 

“Jika manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” 
(HR. Muslim) 

Ilmu yang bermanfaat dan anak saleh—keduanya lahir dari pendidikan dan adab yang diwariskan. 

 

Refleksi untuk Kita Hari Ini 

Di zaman yang serba cepat ini, ukuran keberhasilan sering kali bergeser pada angka dan tampilan. Padahal Islam mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: 

Bukan seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa bijak kita menggunakan akal. Bukan seberapa tinggi yang kita capai, tetapi seberapa baik adab kita dalam menjalaninya. 

Maka tugas orang tua bukan sekadar mencukupi kebutuhan anak, tetapi menanamkan nilai. Tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi membentuk akhlak. Dan tugas kita semua adalah terus belajar—agar tidak jatuh dalam kemiskinan yang paling sunyi: kebodohan. 

Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang apa yang kita tinggalkan dalam bentuk benda, tetapi apa yang kita wariskan dalam jiwa manusia. 

Akal membuat manusia mulia. Ilmu mengangkat derajatnya. Dan adab menjaga kehormatannya. 

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya mewariskan harta, tetapi juga cahaya. 

 

Simorejo, 27 Maret 2026 

Bakda Subuh 

Coretanku

Warisan Terbaik Itu Bernama Akal dan Adab

Warisan Terbaik Itu Bernama Akal dan Adab

Ada kalimat hikmah yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib karromallahu wajhah. Pendek, namun menghunjam

Advertisement