Ada nasihat yang belakangan ini terasa begitu dekat—seolah sengaja dipertemukan berulang kali dengan saya.
Awalnya, saya melihatnya dalam sebuah unggahan TikTok milik Kang Hasyim As. Saya simak sepintas, kemudian berlalu. Namun beberapa waktu kemudian, nasihat yang sama kembali muncul di linimasa Twitter (X). Saya mulai merasa, ini bukan sesuatu yang biasa.
Dan puncaknya, kemarin—Rabu, 2 April 2026—saya justru mendengarnya langsung dari seorang sahabat, K. Mahrus, dalam obrolan santai yang sama sekali tidak direncanakan membahas hal itu.
Di titik itu, saya terdiam. Ada sesuatu yang terasa mengetuk pelan di dalam dada.
Saya merenung: mungkinkah ini bukan sekadar kebetulan? Ataukah ini sebuah alarm—teguran halus dari Allah—yang dikirim melalui berbagai jalan, agar saya berhenti sejenak dan bercermin?
Nasihat itu dinisbahkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
“Manusia itu mudah berubah dalam tiga keadaan:
1. Saat dekat dengan penguasa,
2. Saat memegang jabatan,
3. Saat mendadak kaya raya.
Barang siapa pernah mengalaminya dan tidak berubah, maka sungguh kuat akalnya dan lurus akhlaknya.”
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa dalam. Ia seperti cermin yang diam, namun jujur.
Saya mencoba menunduk ke dalam diri.
Betapa sering manusia merasa tetap sama, padahal keadaan telah mengubah banyak hal dalam dirinya. Kedekatan dengan kekuasaan bisa membuat seseorang mulai memilih-milih sikap. Jabatan dapat perlahan menggeser cara pandang. Dan kekayaan—yang datang tiba-tiba—kadang mampu membelokkan arah hati tanpa disadari.
Yang lebih mengkhawatirkan, perubahan itu sering kali berjalan pelan, halus, dan nyaris tak terasa. Hingga suatu hari, seseorang mungkin sudah menjadi sosok yang berbeda dari dirinya yang dulu—tanpa pernah merasa telah berubah.
Di sinilah letak bahayanya.
Nasihat Sayyidina Ali bukan sekadar peringatan tentang perubahan, tetapi juga tentang keteguhan. Bahwa di tengah ujian berupa kedudukan, kekuasaan, dan harta, ada orang-orang yang tetap mampu menjaga akalnya tetap jernih dan akhlaknya tetap lurus.
Mereka tidak larut. Mereka tidak silau.
Mereka tetap menjadi diri yang sama—atau bahkan lebih baik—meskipun keadaan di sekelilingnya berubah.
Dan saya kembali bertanya pada diri sendiri, pelan-pelan:
Jika suatu hari saya berada di salah satu dari tiga keadaan itu… apakah saya akan tetap menjadi diri saya yang sekarang?
Atau justru berubah tanpa saya sadari?
Pertanyaan itu belum saya temukan jawabannya.
Namun setidaknya, hari ini saya diingatkan—bahwa menjaga diri ternyata jauh lebih sulit daripada mengubah keadaan.
Dan mungkin, inilah makna dari “alarm” yang datang berulang kali itu: bukan untuk ditakuti, tetapi untuk disadari… sebelum semuanya benar-benar berubah.
Kepohbaru, 2 April 2026
Menjelang Maghrib









.png)

.png)




Komentar
Tuliskan Komentar Anda!