Ungkapan syukur tak terhingga kami panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas limpahan nikmat yang diberikan kepada kami, khususnya kepada jamaah Masjid Nurul Islam, Bulu Simorejo.
Salah satu nikmat besar yang kami rasakan adalah kesempatan untuk kembali duduk dalam majelis taklim, yang diasuh oleh Kiai Mahrus dari Brangkal, Kepohbaru.
Majelis taklim Padhang Mbulan yang kembali digelar pasca Ramadhan itu dilaksanakan pada Jumat malam, 3 Maret 2026, bertepatan dengan 15 Syawal 1447 H. Malam itu, suasana terasa begitu sejuk, damai, dan menenteramkan hati.
Kiai Mahrus membacakan dan mengkaji kitab Nashoihul ‘Ibad, karya Syekh Nawawi al-Bantani. Puluhan jamaah putra-putri yang duduk bersila di serambi masjid tampak larut dalam untaian kalam hikmah yang beliau sampaikan. Meski rasa lelah dan kantuk sesekali menyapa, para jamaah tetap bertahan hingga akhir majelis, yang ditutup tepat pukul sembilan malam.
Pada pertemuan perdana ini, Kiai Mahrus mengawali dengan penjelasan mukadimah kitab, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan sebuah hadis qudsi yang sarat makna dan pelajaran hidup.
Allah Swt. berfirman:
“Wahai hamba-hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah saling menzalimi.
Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku.
Kalian semua lapar kecuali yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku.
Kalian semua telanjang kecuali yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku.
Kalian berbuat dosa siang dan malam, dan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku.
Wahai hamba-Ku, jika seluruh manusia dan jin dari awal sampai akhir paling bertakwa, itu tidak menambah kerajaan-Ku sedikit pun.
Jika semuanya paling durhaka, itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun.
Jika semua makhluk meminta kepada-Ku lalu Aku kabulkan semuanya, itu tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Ku, kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke laut.
Sesungguhnya semua itu hanyalah amal kalian yang Aku catat, lalu Aku balas.
Barang siapa mendapat kebaikan hendaklah memuji Allah, dan siapa mendapat selain itu maka jangan menyalahkan kecuali dirinya sendiri.”
Para ulama, seperti Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa hadis ini mengandung pokok-pokok besar ajaran Islam: akidah, akhlak, dan tasawuf.
Pertama, Larangan Berbuat Zalim
Kalimat pembuka hadis ini menjadi kaidah agung dalam Islam: larangan berbuat zalim.
Zalim mencakup: 1) Zalim kepada sesama manusia; 2) Zalim kepada diri sendiri (dengan maksiat); 3) Zalim kepada Allah (dalam bentuk syirik).
Dalam perspektif tasawuf, ini berarti membersihkan hati dari segala bentuk kezaliman.
Kedua, Hakikat Kehambaan: Fakir di Hadapan Allah
Bagian hadis: “Kalian semua sesat kecuali yang Aku beri petunjuk...”
Menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya fakir—sangat membutuhkan Allah.
Sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, bahwa segala hal berasal dari Allah:
Hidayah, rezeki, pakaian dan ampunan, semua itu bukan hasil kekuatan manusia semata, melainkan karunia-Nya.
Ketiga, Luasnya Rahmat Allah
Firman Allah:
“Kalian berbuat dosa siang dan malam, dan Aku mengampuni semua dosa.”
Mengajarkan bahwa pintu tobat selalu terbuka. Tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk berputus asa dari rahmat Allah.
Keempat, Kekuasaan Allah Tidak Bergantung pada Makhluk
Dalam hadis disebutkan:
“Jika semua makhluk paling bertakwa, tidak menambah kerajaan-Ku…”
Ini menegaskan bahwa: Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Ibadah justru untuk kebaikan manusia sendiri.
Kelima, Setiap Amal Akan Dibalas
Penutup hadis: “Semua itu hanyalah amal kalian yang Aku catat...”
Menunjukkan betapa Allah Maha Adil. Setiap amal akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Majelis malam itu bukan sekadar pertemuan rutin, tetapi menjadi pengingat halus bagi hati yang sering lalai. Di tengah kehidupan yang serba cepat, duduk bersila di serambi masjid, mendengarkan kalam hikmah, adalah nikmat yang tak ternilai.
Semoga majelis seperti ini terus hidup, menyalakan cahaya di hati-hati yang rindu kembali kepada-Nya.
Malam kian larut. Angin berembus pelan, menyusup di sela-sela tiang serambi masjid. Satu per satu jamaah berpamitan, melangkah pulang dengan langkah yang lebih tenang dari saat datang.
Lampu-lampu masjid masih menyala, seolah enggan benar-benar memadamkan sisa-sisa cahaya dari majelis tadi. Di sudut-sudutnya, barangkali masih tersisa doa-doa yang belum sempat terucap, atau air mata yang diam-diam jatuh tanpa suara.
Di desa kecil seperti Laraswangi, majelis seperti ini bukan sekadar tempat duduk dan mendengar. Ia adalah ruang pulang—bagi hati yang lelah, bagi jiwa yang sempat menjauh, bagi langkah yang nyaris kehilangan arah.
Dan barangkali, tanpa kita sadari, di malam yang sederhana itu… Allah sedang memanggil kita dengan cara yang sangat lembut.
Bukan dengan suara yang menggelegar, tetapi dengan ketenangan, dengan rasa cukup, dan dengan rindu yang tiba-tiba tumbuh diam-diam di dalam dada.
Semoga kita tidak hanya hadir sebagai tubuh yang duduk, tetapi juga sebagai hati yang benar-benar pulang.
Simorejo, 03 Maret 2026
23.40 WIB









.png)

.png)




Komentar
Tuliskan Komentar Anda!