Salah satu ikhtiar yang terus dilakukan oleh Pengurus Takmir Masjid Nurul Islam Bulu, Simorejo, dalam memakmurkan masjid adalah dengan menyelenggarakan kegiatan majelis taklim.
Majelis taklim yang telah berjalan selama ini dilaksanakan setiap Rabu malam, usai jamaah salat Maghrib. Kegiatan ini diasuh oleh Ustaz Choyr Sudarmono, S.Pd. dengan kajian kitab Fathul Qorib, serta Ustaz Moh. Agus Wahyudi dengan kajian kitab Lubabul Hadits. Keduanya juga merupakan bagian dari pengurus takmir masjid.
Memasuki awal tahun 2026, tepatnya pada Ahad malam, 4 Januari 2026, yang bertepatan dengan 15 Rajab 1447 H, Takmir Masjid Nurul Islam menghadirkan format baru majelis taklim yang diberi nama Majelis Padang Mbulan. Kegiatan ini diasuh oleh K. Mahrus dari Brangkal, Kepohbaru, dengan kajian kitab Tanbīhul Ghāfilīn. Majelis ini dilaksanakan di serambi masjid, menghadirkan suasana ngaji yang lebih terbuka, santai dan khidmat.
Meski hujan mengguyur sejak petang, hal tersebut tidak menyurutkan langkah para jamaah untuk hadir dan mengikuti ngaji bersama K. Mahrus—yang juga menjabat sebagai Kepala Tata Usaha MTs Negeri 3 Bojonegoro. Suasana malam itu terasa hangat, seolah hujan hanya menjadi latar bagi semangat menuntut ilmu yang terus menyala.
Kitab Tanbīhul Ghāfilīn merupakan kitab tasawuf karya Imam Abu al-Laits Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim As-Samarqandi. Beliau adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi, ahli fikih dan tasawuf, yang hidup pada abad ke-4 Hijriah dan wafat sekitar tahun 373 H.
Kitab ini berisi nasihat-nasihat hati tentang taubat, zuhud, kematian, adab beribadah, serta upaya membangunkan kesadaran orang-orang yang lalai. Karena itulah, Tanbīhul Ghāfilīn sangat sering dikaji dalam berbagai majelis taklim.
Pada pertemuan ini, materi yang dibahas adalah Bab Ikhlas. Yai Mahrus menjelaskan bahwa ikhlas merupakan upaya memurnikan niat dalam beramal semata-mata karena Allah Ta‘ala, bukan karena ingin dipuji, dihormati, ataupun mengharap balasan duniawi.
Beliau juga mengutip penjelasan Imam Abu Laits yang menegaskan bahwa ikhlas itu berat, karena ia berhubungan langsung dengan hati, sementara hati manusia mudah berbolak-balik.
“Orang yang ikhlas tidak sibuk dengan penilaian manusia. Baginya, Allah tahu—itu sudah cukup,” tutur beliau.
Pada sesi kedua, Kiai Mahrus melanjutkan kajian dengan penjelasan tentang rukun-rukun salat yang dikutip dari kitab lain, sebagai penguat pemahaman jamaah dalam praktik ibadah sehari-hari.
Semoga kegiatan ini menjadi awal yang baik di tahun baru. Kita semua berharap, majelis ini dapat terus istiqamah dan memberi manfaat bagi jamaah Masjid Nurul Islam Bulu, Simorejo.
Simorejo, 05 Januari 2026
Bakda Subuh

.png)
_(1)_(1)_11zon.png)








.png)


Komentar
Tuliskan Komentar Anda!