Radio, Suara yang Pernah Menemani Kita Tumbuh

Radio, Suara yang Pernah Menemani Kita Tumbuh

Laraswangi - Saat menikmati sarapan pagi—sepiring nasi pecel dan segelas teh hangat—di kantin madrasah, saya dihibur oleh lagu-lagu yang mengalun dari radio konvensional. Seketika, memori saya seperti ditarik mundur ke masa tahun 90-an. 

Mbak Muntik, pemilik kantin itu, usianya terpaut sekitar tiga tahun di atas saya. Di sela kesibukannya menggoreng tempe, saya sempat bertanya mengapa setiap hari ia selalu memutar radio. Jawabannya sederhana dan klasik: ia tidak bisa mengoperasikan media lain selain radio. Hehejadul banget, ya. 

Dari kebiasaan Mbak Mun—panggilan akrabnya—suasana kantin itu menghadirkan kembali keindahan masa-masa lampau. Kala itu, radio menjadi media komunikasi favorit selain televisi. Fungsinya beragam: sebagai sarana hiburan sekaligus penyampai berita. 

Ada kenangan manis saat mendengarkan lagu-lagu menjelang tidur malam. Berkirim atensi, menyampaikan salam, dan me-request lagu favorit—semua terasa begitu dekat, hangat, dan personal. 

Bagi generasi 80–90an, radio bukan sekadar alat pemutar lagu, melainkan sahabat sunyi yang setia menemani malam, menyimpan rindu, dan mengajarkan bahwa kebahagiaan kadang hadir dari suara yang tak pernah kita lihat wajahnya. 

Namun di zaman sekarang, radio tak lagi menjadi pusat perhatian seperti dulu. Ia harus berbagi ruang dengan gawai, aplikasi streaming, dan algoritma yang menyajikan lagu sesuai selera kita. Semuanya serba cepat, praktis, dan personal—namun sering kali terasa sunyi. Tidak ada lagi degup menunggu lagu diputar, tidak ada lagi harap-harap cemas apakah salam kita dibacakan penyiar, dan tidak ada kehangatan kebersamaan yang lahir dari suara yang sama didengar banyak orang pada waktu yang sama. 

Radio hari ini tetap hidup, tetapi maknanya berubah. Ia bukan lagi ruang rindu, melainkan sekadar salah satu pilihan di antara banyak distraksi. Dan mungkin, yang sebenarnya kita rindukan bukan radionya, melainkan cara kita dahulu menikmati waktu: pelan, sederhana, dan penuh rasa. 

Kedungsari, Kepoh, 14 Januari 2026 

Menjelang Maghrib 

Coretanku

Radio, Suara yang Pernah Menemani Kita Tumbuh

Radio, Suara yang Pernah Menemani Kita Tumbuh

Laraswangi - Saat menikmati sarapan pagi—sepiring nasi pecel dan segelas teh hangat—di kantin madrasah, saya dihibur oleh lagu-lagu

Advertisement