Maghrib yang Mengajarkan Arti Pulang

Maghrib yang Mengajarkan Arti Pulang

Laraswangi - Kamis, 15 Januari 2026, menjelang waktu Maghribsaya membesuk Bude Sami yang sedang sakit dan dirawat di ruang ICU RSUD Kepohbaru. Beliau sudah lama menahan sakit, dan malam itu sepertinya berada pada kondisi terlemah. Responsnya sangat minim, nyaris tak mampu menanggapi orang-orang yang menunggui di sekitarnya. 

Saya bersama beberapa anggota keluarga—anak, menantu, saudara, dan tetangga—berada di sisi Bude. Kami menunggui dan membimbing beliau membaca kalimat jalalah. Ada pula yang membacakan Surat Yasin. Semua itu kami lakukan dengan satu harapan: semoga Allah memudahkan Bude dalam menghadapi sakaratul maut dan menganugerahinya wafat dalam keadaan husnul khatimah. 

Tepat pukul 19.20 WIB, malam Jum’at Pon, bertepatan dengan malam peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad saw, 27 Rajab 147 H bude sowan kepada Allah Swt. 

Peristiwa itu menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya, dan tentu juga bagi yang hadir. Ada banyak pelajaran yang saya petik. 

Pertama, rasa syukur yang mendalam. Saya ditakdirkan Allah bisa menemani Bude di detik-detik terakhir beliau di dunia fana ini. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk menyaksikan dan membersamai momen sesakral itu. 

Kedua, saya benar-benar turut merasakan betapa beratnya sakaratul maut. Ia adalah fase kritis dan sangat sulit yang dialami seseorang menjelang kematian, saat ruh berpisah dari jasad. Tubuh melemah, rasa sakit luar biasa hadir, dan kondisi menjadi sangat rapuh. Ini adalah momen sakral penuh ujian. Cara, tingkat kesulitan, dan lamanya proses ini berbeda-beda pada setiap orang, disertai tanda-tanda fisik dan spiritual yang hanya bisa disaksikan dengan hati yang tunduk. 

Ketiga, hidup di dunia ini sejatinya adalah proses belajar yang tidak pernah berhenti. Sejak masih di dalam kandungan, seorang anak sudah dikenalkan nilai-nilai kehidupan oleh orang tuanya, terutama tentang tauhid. Saat lahir ke dunia, ia disambut dengan lantunan azan dan iqamah. Sepanjang hidupnya, manusia terus belajar. Bahkan ketika menghadapi sakaratul maut pun, ia kembali dituntun dan diajarkan tauhid. Hingga ke liang lahat, perjalanan itu ditutup dengan azan dan iqamah, serta nasihat yang disampaikan oleh modin. 

Dari awal hingga akhir, hidup manusia ternyata adalah rangkaian pelajaran tentang mengenal, mengingat, dan kembali kepada Allah. 

Peristiwa itu membuat saya tersadar bahwa hidup bukan sekadar tentang berapa lama kita berjalan di dunia, tetapi seberapa siap kita saat dipanggil pulang. Setiap tarikan napas adalah kesempatan belajar, setiap detik adalah pengingat bahwa akhir perjalanan pasti datang. Di detik-detik sakaratul maut, tidak ada yang benar-benar kita genggam selain iman dan amal. Semoga Allah mempersiapkan hati kita sejak sekarang, melembutkan lisan untuk selalu menyebut nama-Nya, dan kelak memanggil kita dalam keadaan tenang, ridha, dan diridhai. 

Bulu – Simorejo, 16 Januari 2026 

Bakda Shubuh 

Coretanku

Maghrib yang Mengajarkan Arti Pulang

Maghrib yang Mengajarkan Arti Pulang

Laraswangi - Kamis, 15 Januari 2026, menjelang waktu Maghrib, saya membesuk Bude Sami yang sedang sakit dan dirawat di ruang ICU

Advertisement