Tiga Faktor Pembentuk Kepribadian dalam Nashoihul Ibad

Tiga Faktor Pembentuk Kepribadian dalam Nashoihul Ibad

Dalam kitab Nashoihul Ibad, para ulama mengingatkan bahwa kepribadian seseorang tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk, dipahat, dan diuji oleh banyak hal—oleh apa yang kita pikirkan, kita lakukan, dan kita niatkan. Kepribadian bukan sekadar citra di hadapan manusia, tetapi lebih dalam: ia adalah pantulan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama.

Menariknya, pesan dalam Nashoihul Ibad ini selaras dengan petuah Sayidina Ali bin Abi Thalib ra yang sangat masyhur. Sebuah nasihat yang singkat, tetapi dalam maknanya. Tiga kalimat yang seolah sederhana, namun justru menjadi fondasi kuat pembentuk kepribadian seorang mukmin.

Pertama, jadilah manusia paling baik di sisi Allah SWT.

Inilah orientasi utama hidup. Ukuran kebaikan sejati bukan terletak pada pujian manusia, jabatan, atau pengakuan sosial, melainkan pada nilai kita di hadapan Allah. Keikhlasan, ketundukan, dan kesungguhan menjalankan perintah-Nya adalah inti dari poin ini. Seseorang boleh saja tampak biasa di mata manusia, tetapi sangat mulia di sisi Allah karena kejujuran niat dan lurusnya amal.

Di sinilah Nashoihul Ibad menekankan pentingnya niat. Amal kecil yang ikhlas bisa lebih bernilai daripada amal besar yang dipenuhi riya. Kepribadian seorang hamba dibentuk dari kesadarannya bahwa Allah selalu melihat, bahkan saat manusia tak lagi memperhatikan.

Kedua, jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu sendiri.

Ini bukan ajakan untuk merendahkan diri secara berlebihan, apalagi membenci diri. Melainkan sebuah latihan kejujuran batin. Dengan memandang diri penuh kekurangan, seseorang akan terhindar dari ujub dan kesombongan. Ia mudah bertaubat, ringan meminta ampun, dan tidak merasa paling benar.

Dalam kaca mata ini, kesalahan orang lain tidak lagi menjadi hiburan, karena ia sibuk memperbaiki dirinya sendiri. Kritik tidak ditolak mentah-mentah, nasihat tidak dianggap serangan. Inilah kepribadian yang tumbuh dari kerendahan hati—sebuah sifat yang dalam Nashoihul Ibad berkali-kali diingatkan sebagai kunci keselamatan.

Ketiga, jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.

Tidak merasa lebih suci, tidak merasa lebih tinggi. Bersikap wajar, bersahaja, dan tidak menuntut perlakuan istimewa. Kepribadian seperti ini membuat seseorang mudah diterima, menenangkan, dan tidak melelahkan bagi lingkungannya.

Ia tidak sibuk membangun citra, karena yang ia jaga adalah nurani. Ia tidak haus pengakuan, sebab yang ia kejar adalah keridhaan. Menjadi “biasa” di hadapan manusia justru sering kali membuat seseorang menjadi “luar biasa” dalam akhlaknya.

Jika direnungkan, tiga nasihat Sayidina Ali ra ini seperti tiga poros pembentuk kepribadian:

ü  hubungan dengan Allah, sikap terhadap diri sendiri, dan adab kepada sesama manusia.

ü  Niat lurus kepada Allah.

ü  Introspeksi jujur kepada diri.

ü  Kerendahan hati dalam bermasyarakat.

Inilah kepribadian utuh yang diajarkan oleh ulama-ulama salaf, sebagaimana tercermin dalam Nashoihul Ibad. Kepribadian yang tidak gaduh oleh pencitraan, tidak rapuh oleh pujian, dan tidak runtuh oleh celaan.

Semoga kita dimampukan untuk terus belajar—bukan menjadi manusia yang paling terlihat baik, tetapi menjadi manusia yang terus membaik. Pelan-pelan, setahap demi setahap, sampai Allah ridha memanggil kita sebagai hamba-Nya.

Aamiin.

 Bulu Simorejo, 19 Januari 2026

Coretanku

Di Balik Foto Profil yang Meyakinkan

Di Balik Foto Profil yang Meyakinkan

Simorejo - Cukup sering saya menerima pesan WhatsApp dari nomor baru yang menggunakan foto profil orang yang saya kenal. Pernah suatu

Advertisement